Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

AKU KEMBALI

Oleh Puji Lestari


AKU KEMBALI


“Umi, ntar tolong ajarin Bahasa Inggris ya,” pinta si sulung, Husna, sambil mencium adik bungsunya yang sedang menyusu dalam pelukanku. “PRku banyak je, nih mau ngerjain Matematika dulu,” tambahnya.

                “InsyaAllah nanti kalau adik sudah tidur ya,” janjiku. Ia tersenyum dan segera menuju dapur, menyelesaikan tugas rutinnya mencuci piring, untuk kemudian menyepi di kamar belakang dengan tumpukan tugas SMPnya.

                “Umi, umi…yang ini gimana to? Ayyash belum mudeng je.”

                Anak ketigaku muncul dari ruang depan dengan buku LKS Matematika. Kulirik si bungsu yang nyaris terpejam sempurna. Kuberi isyarat mas kecil untuk sabar sejenak. Ia lalu duduk di sampingku. Aku tersenyum kecut melihat bibirnya yang mengerucut, cemberut.

                Tiba-tiba terdengar salam dan sosoknya yang lincah sudah ada di dekat kami. Aku tak sempat mencegahnya untuk tidak mencium balita yang kini telah lelap. Gadis kelas enam SD itu selalu gemas dengan kemontokan si bungsu.

                “Haniii…,” tegurku tak kalah gemas. Anak keduaku malah tersenyum lebar.

                “Sudah selesai belajar kelompoknya?”

                “Sudah, Mi, tapi ini mau ijin lagi yak. Ke karang Kidul bentar beli bahan buat prakarya besok, tuh Selin dan Ifah dah nunggu di luar.” Aku menghela nafas.

                “Umi minta tolong ajarin adikmu ini sebentar.”

                “Aduh, Mi, ntar keburu malam nutup lo warungnya. Lagian Ifah bentar lagi dijemput ibunya, ini kan tugas kelompok juga,” elaknya.

                “Ayyash maunya sama umi,” sela Ayyash, mulutnya kian manyun.

                “Tuuh…” Hani dapat angin.

                “Sama abi ajalah. Ya, Yash?” usulnya

                “Emoh, mau sama umi!”

                “Sst, sst…ya sudah, ayo sama umi.”

                Kubaringkan bayiku hati-hati. Hani sudah kembali bergabung dengan dua temannya. Kulirik jam dinding. Setengah tujuh lebih. Sayup kudengar tilawah suamiku di kamar belakang, menemani Husna.

                “Kok nggak mau sama abi aja kenapa?” tanyaku pada Ayyash lembut. Wajahnya sudah lebih cerah.

                “Abi nggak sabaran,” jawabnya spontan.

                “Eh? Nggak boleh ngomong gitu, ah.”

                “Enakkan sama umi. Abi kalau ngajarin buru-buru terus. Ayyash kan jadi nggak mudeng, Mi.”  aku geleng-geleng kepala. Kubelai rambutnya penuh sayang.

                “Besok-besok harus mau ya belajar sama abi, umi kan kadang repot. Ayyash bilang saja sama abi jangan buru-buru ngajarinnya. Ya? Nah, mana PRnya?”

                Belum sepuluh menit, HPku berbunyi. Aku teringat sesuatu. Astaghfirullah.

                Tapi kutepis segera. Aku berusaha konsentrasi menemani putraku.

                Adzan isya berkumandang. Tak lama suamiku muncul dari belakang.

                “Ayo, Yash. Dah selesai belum PRnya? Ntar lanjut lagi ya.  Yuk,” ajaknya.

                “Udah kok. Kalau sama umi Ayyash cepet mudeng, kalau sama abi enggak,” katanya polos.

                Suamiku tertawa. Sebelah tangannya mengacak rambut Ayyash yang sudah gondrong lagi.

                “Abi harus bisa menaklukkan anak-anak lho,” bisikku. Dia tersenyum.

                “Umi yang repot kalau semua anak maunya sama umi.”

                “Siap, Bos. Kalau nggak cape ya?” senyumnya nakal.

                Keduanya berlalu. Aku ingat ponselku.

                Ukhti, sudah kholas belum? Kalau belum kurang berapa lembar? Biar saya lempar ke yang lain. Ini sudah overtime.

                Kulirik kembali jam. Aku masygul. Ini untuk kesekian kali aku tidak lapor ODOJ ontime.

                Belum. Baru separuh. Afwan.

                Aku surut ke belakang. Kembali duduk di tepi ranjang. Kutatap ia yang begitu damai dalam tidurnya. Kucengkeram sisi ranjang. Kepalaku rebah di sisi lemari yang tepat di samping tempat tidur. Kupejamkan mata yang memanas. Gerimis di dalam dada ini.

                Iqomah membuyarkan keluhku. Pelan aku bangkit mengambil wudhu.

                “Sholat dulu yuk, anak cantik,” ajakku pada putri sulung.

                “Emang cantik, hehe…Tapi lagi libur sholatnya, umi pelupa.”

                “Oh iya.”

                “jangan lupa janjinya ya, Mi, ini dah mau selesai. Husna kalau Bahasa Inggris suka bingung. Habisnya, kata ma ucapan kok beda. Ini kan bahasa muna namanya,” selorohnya.

                “Bisa saja kamu ini,” ujarku tak bisa menahan senyum.

                Selalu ada hiburan yang Kau selipkan.

                Saat kuambil mukena, kembali HP berbunyi. Jam-jam segini menjadi momok tersendiri, dua bulan ini.

                Afwan ya, ukhti. Tolong diusahakan mulai besok bisa kholas ontime. Ini untuk kebaikan kita bersama. Fastabiqul khairat.

                Aku jengah. Kulalui rakaat demi rakaat dengan gundah. Hingga salam, keruh hatiku belum padam. Kenapa ibadah menjadi begitu hampa? Tilawahku tak berasa. Ada intaian yang menggelisahkan di jam-jam keluarga. Tak bisa aku menambahi suami dengan beban pikiran ini. Ia sudah terkuras tenaga dan fikiran, sejak habis subuh hingga menjelang maghrib. Tak kusalahkan ia yang begitu tiba di rumah ingin selalu rehat, dan menuntaskan tilawahnya juga.

                Tak bisa kusalahkan juga dua putriku yang saat ini sedang mempersiapkan ujian nasional. Tiap hari pulang sore, hanya selisih beberapa menit dari kepulangan abinya, sambil membawa masing-masing beban tugas sekolah. Rutinitas yang kujalani dengan terkumpal-kampil, dari bangun tidur hingga mau tidur, bahkan kadang di tengah malam jika si kecil terbangun. Waktu untuk diri sendiri nyaris tak ada.

                Masih layakkah aku di komunitas ini? Jika setiap hari membebani orang lain untuk meneruskan tilawahku hingga genap satu juz? Kenapa upaya mendekatkan diri jadi menyiksa begini? Ikhlas, begitu sulitnya.

                                                                                                #####

Maka tetaplah engkau ( Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Allah  Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. ( QS. Hud: 112)

               

                Ini memasuki tahun kedua. Dua putriku telah masuk lingkungan Pondok Pesantren. Mas kecil, Ayyash, sudah lebih mandiri, tinggal si bungsu yang masih butuh perhatian ekstra. Ada yang mendesak keluar dari sudut hati. Ada rindu yang menuntut segera dituntaskan. Ada malu yang sekian lama tertahan. Ada kesadaran yang ternyata butuh pengorbanan. Waktu mengajariku, istiqomah itu berat, tapi sungguh nikmat. Istiqomah itu, umpama mimpi tapi begitu memberi arti. Istiqomah itu, perjuangan sampai mati.

                “Gabung lagi saja. Menurut abi, resign dari ODOJ itu kerugian besar. Kita jadi terlena karena nggak ada yang ngingetin, kurang termotivasi, dan yang jelas khawatir termasuk memutus silaturahim,” nasihat suamiku. Ya, keputusan sesaat, yang kuambil di tengah galau, tanpa sharing dengannya, sungguh membuatku menyesal.

                “So? Kadang di terror itu mengasyikkan lho,” candanya menutupi rasa sedihku. Kucubit pinggangnya mesra. Segera kuambil HP dan menghubungi sebuah nomor.

                Oh, Alhamdulillah. Gabung yang local atau nasional? Kalau mau gabung di grup saya saja, yang nasional. Asyik lo, kadang dapet info-info penting yang gres. Ini mumpung memang kurang personil. Wait ya.

                Tanpa pikir panjang kuiyakan saja saran beliau, guru kami. Seakan hendak bertemu kekasih, tiap hari kubersiap dengan dada berdebar. Semoga ini tanda taubatku Kau terima, ya Allah, harapku pada-Nya malu-malu.

                Kuingat dialog perpisahan itu, di teras masjid ponpes putri sulungku.

                “Umi ingin kalian senantiasa bersama orang-orang yang setiap hari lisannya basah dengan bacaan Qur,an. Tak ada kemuliaan selain hidup bersama Al Qur,an. Dan umi sangat ingin, jika tiba-tiba umi atau abi berpulang, nama umi atau abi disebutkan disini, karena menjadi salah satu wali santri, lalu didoakan oleh seluruh penghuni pondok, juga pondok adikmu, Hani, alangkah tenang umi abi berpulang. Bukankah doa itu makanan terbaik bagi orang yang telah kembali, Nak? Setidaknya kini kalian telah membuka pintu lebar dengan berkenalan dan hidup bersama, dengan mereka-mereka yang akan selalu saling mendoakan walau nanti kalian telah berpisah. Nikmatnya memiliki kekayaan bersaudara karena iman.”

                 Kini, seakan nasihat itu lebih pantas kutujukan buat diriku sendiri. Alangkah naïf aku lebih dari setahun ini. Merasa menjadi orang paling repot, sibuk, lemah. Lantas dimana nilai perjuangan?  Aku malu. Malu pada-Mu. Sungguh, istiqomah itu, perjuangan sampai mati. Ya Allah, aku kembali.

                          Tak akan pernah habis dibahas dan dipelajari. Tak akan pernah bosan berulang kali dibaca dan dihayati. Dekat dengannya adalah kenyamanan, hidup dengannya adalah kemuliaan. Semoga istiqomah untuk selalu bersyukur dengan hadiah terindah ini, Al Qur,anul karim.

Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha`Tahu. (QS.Hud:1)


Bakat Setiaji Ketum 2017-2020