Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

Apa Kabar Tilawah Hari ini?

oleh : Wardatul Aini


Apa Kabar Tilawah Hari ini?


Tidak lama lagi Ramadhan akan berlalu. Hanya sedikit sekali sisa waktu baginya membersamai kita tahun ini. Lalu, sibuk apa kita di sepuluh hari terakhir? Membuat berbagai olahan kue, sibuk berniaga, atau sedan hunting aneka model baju terbaru? Stalking sang idola yang konon kabarnya tengah sibuk membenahi rumah baru dalam rangka menyambut lebaran?

Di sela-sela kesibukan yang memuncak, adakah waktu yang kita sisihkan untuk tilawah?

Kenapa harus tilawah?

Sahabat, tilawah termasuk amalan yang sangat dicintai oleh Allah. Berkata syahid Sayyid Kutub, “Hidup dalam naungan al-qur’an adalah nikmat. Nikmat yang hanya diketahui oleh siapa yang telah merasakannya. Nikmat yang akan menambah usia, memberkahi dan menyucikannya.”

Beruntunglah orang-orang yang hatinya sering merindu akan al-quran. Jiwa mereka seolah kerontang jika hari-hari yang dilewati tanpa lantunan ayat-ayat indah-Nya.

Besar sekali pahala yang telah Allah persiapkan bagi hambanya yang mau melantunkan ayat-ayat suci tersebut. Bayangkan saja, satu huruf yang kita baca dinilai sebanyak 10 kebaikan. Dalam satu menit, sejumlah pahala bisa kita dapatkan dari membaca qalam Allah.

“Banyak agenda yang belum kubenahi.”

Belum beli baju baru, rumah masih berantakan, belum nyari toples kue, dan beragam alasan lainnya muncul sebagai alasan agar tidak tilawah. Satu hal yang barangkali luput dari pantauan kita, benar memang tilawah akan menyita waktu yang kita miliki. Tetapi, Allah tahu bagaimana cara mengembalikan waktu yang telah kita sisihkan untuk-Nya. Dengan tilawah waktu menjadi berkah. Apa yang kita berikan dengan ikhlas untuk Allah, maka dia akan membalasnya dengan yang lebih baik.

Jika diberi pilihan, mau memiliki banyak waktu atau diberi keberkahan waktu? Pasti kita ingin waktu lebih berkah. Bukankah begitu, Sahabat? Waktu yang banyak tidak menjamin kita bisa melakukan banyak hal, tetapi dalam keberkahan waktu insya Allah yang banyak kebaikan demi kebaikan yang kita lakukan. Pernah tidak sih merasakan di suatu hari dengan agenda yang menumpuk, tetapi hari itu kita terlebih dulu menunaikan kewajiban untuk-Nya, setelah semua tertunaikan barulah kita membenahi agenda hari itu satu per satu. Rasanya, agenda demi agenda hari itu tertunaikan dengan baik, bahkan terasa lebih baik dari hari biasanya.

Wahai orang-orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, dan bacalah al-quran dengan perlahan-lahan. (Al-Muzammil: 1-4).

Al-quran merupakan pedoman hidup. Bagaimana bisa sesuatu itu menjadi petunjuk jika kita tidak membacanya? Yang namanya pedoman tentu dibuat untuk memudahkan, bukan menyusahkan. Dulu, ketika pertama kali motor diciptakan apakah semua orang bisa menggunakannya begitu saja? Tentunya tidak. Sudah pasti siapa yang ingin memiliki motor tersebut harus mau membaca pedoman, petunjuk, sehingga motor itu bisa dikendarai, bukan malah didorong. Saat motor sudah dipacu dan hendak berhenti maka harus menekan rem. Kenapa harus rem? Tahu dari mana? Ya, dari petunjuk dengan mau membaca.

“Jadwalku siang hari pada banget.”

Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang (Al-Muzammil:7).

Sahabat, sering kita mengeluh akan padatnya jadwal yang kita miliki. Andai saja jam bisa ditambah. Sehari melebihi 24 jam tentu kita akan menambahnya sehingga memiliki sedikit waktu untuk bernafas dengan aman. Demikian, bukan? Bukan jumlah waktu lebih banyak yang kita butuhkan, melainkan manajemen yang tepat sehingga waktu terbatas yang kita miliki tidak terbuang secara percuma.


Bakat Setiaji Ketum 2017-2020