Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

Bait Cinta Berbalas Duka

Oleh Nike Shinta


Bait Cinta Berbalas Duka


 

 

Tersurat perjalanan indah tentang manusia yang selalu terkenang. Di sana tertulis kisah yang teramat mesra. Persaudaraan dan pertemanan menjadi jalinan cinta yang teramat mengesankan. Manusia selalu memiliki kisahnya yang tak terlupakan. Bermesra dengan makhluk Tuhan dalam suatu perjalanan. Kisah indah bukan hanya milik manusia dengan sesamanya, melainkan juga kisah cinta dengan alam yang memberikan segala kepunyaannya tanpa bertanya untuk apa. Alam dengan segala kerendahan hatinya memberikan apa saja yang mampu ia berikan tanpa pamrih apa lagi menuntut suatu balasan. Kemesraan yang kian terjalin dan kian mesra dari hari ke hari.

            Mereka selalu berjalan berdua. Memintal persaudaraan yang semula bercerai-berai. Merangkai asa untuk menjadi tujuan bersama. Memberikan napas bagi setiap sendi kehidupan yang fana. Persaudaraan itu tulus seperti persaudaraan mukmin yang berpadu karena Allah semata. Kisah kehidupan yang memberikan keberlimpahan untuk seluruh umat manusia. Katanya batu pun bisa jadi tanaman. Lalu setiap tanaman pasti memberikan penghidupan. Manusia dan alam menjadi kekasih Tuhan yang tak terpisahkan.

            Manusia. Makhluk Tuhan yang mudah bosan. Ketika telah didapatkan semuanya, muncul keinginan untuk berhianat. Mencari sensasi agar persaudaraan yang indah kemudian menjadi timbul pertengkaran serupa jalinan cinta anak remaja. Mencari gara-gara untuk menumbuhkan pemantik kegeraman. Tapi ini alam. Alam selalu baik namun tidak punya hati. Alam selalu menghadirkan apa saja namun tidak mudah meredam amarahnya. Ketika manusia dengan pongah menghianati alam lalu mengambil apa saja tanpa mempedulikan hak saudaranya. Bertindak sesuka hati tanpa rasa peduli. Mengambil semua sari pati tanpa memberinya nutrisi. Mencerabut semua harapan dari akarnya. Menyemai lalu membuang semua sampah masyarakat dalam sungai kehidupan.

Alam mulai bosan sebab tempat tinggalnya disulap menjadi perumahan, gedung dan apartemen. Alam mulai geram lalu mengirim hujan dan badai sebagai pelampiasan. Alam mulai brutal. Air bah dan angin topan menelan kemegahan dan kepongahan manusia. Tinggallah manusia menangis pilu menyesali diri.

            Hujan dan air mata perpadu. Suara guntur dan rintihan menjadi satu. Wajah muram dan langit kelabu, keduanya membisu. Adakah yang lebih menyayat hati ketimbang kemarahan alam yang tak punya hati? Manusia masih memohon dalam sujud panjangnya. Berharap Tuhan akan memaafkannya lantas memerintahkan alam untuk kembali tenang.

            Hari itu, ribuan manusia kehilangan senyum cerianya. Saat itu, hujan dan air mata mengguyur batin mereka. Kala itu, suara guntur dan rintihan riuh memecah kesunyian malam. Ketika itu, wajah muram dan langit kelabu kompak menyebut suatu kalimat indah. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Quran surah Ar Rahman)

#Facebook Comment

Comment cannot load, error Facebook App ID.

Bakat Setiaji Ketum 2017-2020