Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

Bergegaslah, Ulurkan Tanganmu

Oleh Iradah Jayanti


Bergegaslah, Ulurkan Tanganmu


 

Pukul 16.01 WITA, aku bergegas menuju mesin absen – tak sabar mengakhiri jam kerja hari ini. Hari ini cuaca sangat cerah, langit biru dengan sedikit sapuan awan putih di cakrawala. Hmmm, tampaknya waktu yang sangat tepat untuk berjalan-jalan sambil mengusir kepenatan rutinitas pekerjaan. Kepenatan harus segera diusir sebelum ia menumpuk dan menjadi kefuturan bukan?

Langkah kakiku membawaku menuju taman kota tak jauh dari tempatku bekerja. Kubiarkan mataku menyapu seluruh segmen kejadian disana. Aku berharap ada hal menarik yang dapat kutarik hikmahnya atau setidaknya mampu mengendurkan ketegangan wajah dengan sedikit tawa. Semenit, dua menit, “Ah rasanya semua biasa saja” ujarku dalam hati. Sepeda-sepeda yang berbaris rapi di tempatnya. Pemuda pemudi yang berlari kecil untuk berolahraga. Penjaja makanan ringan yang melayani pembelinya. Anak kecil berlari berkejaran bersama kawannya. Tak ada yang salah bukan? Semua biasa saja. Sudahlah, mungkin lebih baik aku mencari spot tempat duduk yang nyaman untuk ber-matsurat sore sambil melihat-lihat keadaan sekitar.

Aku pun berkeliling taman sembari mencari tempat yang sekiranya tepat untuk ber-matsurat. Beruntung, ada sebuah gazebo yang belum ditempati di samping tempat bermain anak. Aku bergegas melangkah ke arah gazebo itu, sambil memandangi anak-anak yang sedang menikmati waktu sorenya. Hei lihat, ada yang memanjat tali, ada yang bermain ayunan, ada yang jungkat-jungkit, dan tentu saja perosotan – mainan favorit anak-anak. Eh, tunggu dulu… Langkahku terhenti, kuamati lagi anak yang sedang bermain perosotan itu. Aneh, kenapa dia mengerem aktivitasnya sebelum mencapai tanah? Hap. Anak itu meloncat kemudian berlari ke arah seorang wanita tak jauh darinya. Rupanya ia menghindari genangan air yang ada tepat di bawah perosotan itu.

“Pintar sekali kamu nak. Main-mainnya sambil tetep jaga kebersihan ya nak, biar ngga susah nanti solatnya.” Begitu ujar seorang ibu yang menyambut buah hatinya.

Aih, jleebbb. Kejadian ibu-anak itu membuatku teringat pada berita-berita yang ramai di media akhir-akhir ini. Cuaca ekstrem. Badai. Banjir bandang. Longsor. Bukankah bencana-bencana itu bukan hanya meninggalkan bekas berupa genangan air? Berarti, bukankah saudara-saudara kita yang disana menjadi lebih sulit dalam menjalankan kehidupannya?

Bahagianya anak-anak yang berlarian di taman sore ini, apakah anak-anak di daerah bencana alam itu juga masih mengecap kebahagiaan? Apakah sekolahnya masih berjalan dengan lancar? Apakah buku-buku mereka terselamatkan? Apakah seragam mereka masih bisa dipakai? Atau jangan-jangan untuk tidur pun mereka kesusahan. Aih, bagaimana pula jika untuk beribadah dengan nyaman pun mereka kesulitan.

Rasanya, ada bisik yang menggema dalam kepalaku. “Bukankah kita memiliki tanggungjawab untuk menjaga saudara-saudara kita. Terlebih lagi bagi mereka yang dalam kesulitan, jangan sampai kesulitan dunia menjadi melemahkan akidah saudara kita. Tidakkah kau ingin memudahkan perkara saudaramu?”

Bergegas. Sesampaiku di gazebo yang kutuju. Segera kubuka kanal sosial media dari sebuah aksi sosial yang selama ini sering kuabaikan. Cepat-cepat kupindai digit bilangan yang bisa menjadi alamat tujuan. Terbayang berkilometer disana masih ada saudara-saudaraku yang entah hendak tidur dimana atau bahkan masih sibuk mencari tempat yang cukup bersih untuk menengadah pada Tuhannya.

“dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS Al Maidah/5:2)

#Facebook Comment

Comment cannot load, error Facebook App ID.

Bakat Setiaji Ketum 2017-2020