Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

Cermin

Oleh Alfi Bahaviani


Cermin


“Ih sebel deh! Masa ya, anak pengajian aku di rumah susah banget disuruh solat ke masjid. Kan aku jadinya yang kena protes orang tua mereka di rumah.” Gerutu May.

Mbok  ya salam dulu. Baru ngomong gitu, May.”

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh.”

“Lina, dengerin aku. Jangan main laptop terus.”

“Iya, May. Aku dengerin kok. Ini aku lagi ngerjain tugas.” Balas Lina tanpa melepas pandangannya dari laptop.

“Ih kamu tuh.” Dengan gusar May duduk di dekat meja kerja Lina.

“Ada apa, May?”

“Tadi, ada orang tua yang protes. Bilang kok, anaknya males banget solat ke masjid. Padahal udah ngaji. Katanya, aku engga ngajarin mereka untuk biasa  solat di masjid. Padahal kan, aku sama Mas Rama udah bilangin ke mereka untuk solat di masjid.”

“Hmm gitu.”

“Ih Lina! Kamu bantuin bilangin dong ke orang tua anak-anak ngaji aku itu. Biar mereka ngerti gitu.” Dengan malas Lina memutar kursinya menghadap May.

“Sekarang aku mau tanya. Kamu sama Mas Rama solat ke masjid engga?” Tanya Lina serius. May terdiam lama.

“Ya kan, aku sama Mas Rama sama-sama kerja. Pulang sore, abis itu ngajar ngaji. Jadi kadang engga sempet mau solat ke masjid.” Kilah May.

“Hm engga sempet ya.” Sejenak, Lina mengamati May yang masih gusar. “Gini Lin, aku mau cerita sedikit. Dulu di zamannya Nabi Musa, Bani Israil itu sempat memerintahkan orang-orang berbuat baik. Mereka melakukan amar ma’ruf nahi munkar sebagai kewajiban mereka menjadi orang yang alim. Yang paham dengan agama.”

“Tapi, ketika Bani Israil udah dikasih sama Allah kenikmatan yang banyak. Di selamatkan pula dari kejaran Raja Fir’aun yang bengis. Mereka jadi lupa diri. Sering mencampur adukan kebaikan dengan keburukan. Dan parahnya lagi, mereka menyuruh orang berbuat kebaikan, tapi melupakan hak dan kewajiban mereka dalam melakukan kebaikan itu. Padahal pada masa itu, mereka membaca Taurat loh.”

“Makanya di surat Al Baqarah ayat 44, Allah menegur mereka ‘Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?’”

Lina melihat wajah May yang terdiam. “May, zaman sekarang itu orang macam-macam maunya. Tapi kadang kita suka lupa. Kita ingin yang baik, tapi kita engga melakukan kebaikan itu. Kayak kasus kamu sama Mas Rama ini. Kalian mau anak ngaji kalian juga rajin solat di masjid. Ya berarti, harus dimulai dari kalian.” Ujar Lina seraya menepuk-nepuk bahu May.

“Sekarang, bagaimana kondisi anak, keluarga, dan umat yang kita bina adalah cerminan kita, May.”

“Iya juga ya, Lin. Aku merasa diriku dan Mas Rama sesibuk itu. Padahal untuk ibadah kita engga boleh kasih waktu luang. Astaghfirullah, protes orang tua ke aku itu jadi kayak teguran Allah ke Bani Israil ya?” Wajah May berubah sendu.

“Bisa jadi, May. Makanya kenapa Allah bertanya ‘tidakkah kamu mengerti?’ itu untuk kita renungkan. Sejauh ini, apa kita sudah menunjukkan wajah dakwah terbaik untuk umat kita?”

Sore itu, May dan Lina menatap langit senja dari jendela. Mengeja setiap langkah mereka, meneliti sisi mana yang salah dan harus di perbaiki. Karena mereka sadar, bahwa berbuat baik tidak cukup hanya di mulut, tapi juga di perilaku.

#Facebook Comment

Comment cannot load, error Facebook App ID.

Bakat Setiaji Ketum 2017-2020