Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

Cinta dan Kewaspadaan Kita

Lain-lain by Administrator 30 Sep 2016



Cinta. Ah lagi-lagi penulis bicara tentang cinta. Wangi semerbak di taman bunga nirwana, yang harumnya tertiup semilir angin surgawi. Tiada yang mampu membantah sebuah cinta. Tentang hal yang menggetarkan, menggelorakan, bergejolak tak berkesudahan. Duhai engkau telah beruntung dalam hidup, diberkahi ilham dan anugerah cinta.

Cinta kepada lain jenis merupakan bagian dari fitrah seorang manusia. Sebab itu pula lah keberlangsungan hidup dapat tetap terjaga hingga kini. Islam sebagai agama yang Rahmatan Lil Alamiin telah mengandung dengan demikian indah di tiap syariat yang diajarkannya. Namun bagaimana jika ada yang menyalahgunakan fitrah itu tidak semestinya? tidak sesuai syariat yang berlaku? seperti yang terjadi di generasi negeri ini yang makin hari tampak semakin memprihatinkan saja.  Banyak terjadi pada anak muda sekarang ini cenderung terjerumus ke pergaulan bebas yang bergelimangan dosa. Banyak sudah tunas-tunas muda jatuh gugur sebelum mengepakkan kelopaknya yang merekah. Gugur sebagai akibat dari teriakan dosa durjana yang mengatasnamakan cinta yang membisik nurani mereka yang tak terjaga. Cinta yang semestinya merupakan fitrah bagi manusia itu menjadi seperti laksana berada dalam segelas anggur kepekatan, yang terlihat nikmat dirasa tapi ternyata memabukkan jiwa, mengkerdilkan hati dan perasaan, menyeret-nyeret ke dalam lumpur hisap kejahiliyahan diri.

Data yang berhasil penulis himpun dari berbagai sumber di internet mengabarkan bahwa selama 2013 saja, anak-anak usia 10 - 11 tahun yang hamil diluar nikah mencapai 600.000 kasus. Sedangkan remaja usia 15 - 19 tahun yang hamil diluar nikah mencapai 2,2 juta. Dan menurut data resmi BKKBN di tahun yang sama diketahui  1 dari 5 remaja putri Indonesia mengalami hamil diluar nikah, lalu hal yang sangat mengejutkan lagi terdapat 2,5 juta setiap tahun remaja putri yang melakukan praktek aborsi. Subhanallah!!.

Letupan-letupan kejadian semacam ini seharusnya bisa menjadi lecutan bagi kita selaku penggiat Qurani untuk bisa menempatkan dakwah kepada generasi muda, terutama remaja yang sedang mengalami masa transisi krisis indentitas diri, untuk dapat mengisi hari dengan kegiatan yang positif, kreatif serta bermanfaat bagi sesama. Bagaimana seharusnya kita selaku penggiat Qurani menerjemahkan cinta sebagai rahmat-Nya menjadi reprentasi al Quran menuju landasan utama membumikan al Quran dan melangitkan manusia. Bagaimana kita selaku penggiat Qurani, mampu memberi identifikasi bagi remaja sebagai generasi penerus dengan bentuk sirah nabawiyah yang menjadi teladan cinta terbaik di muka bumi. Peranan semua pihak dalam tanggap darurat perihal pengikisan akhlak remaja dewasa ini menjadi wajib hukumnya, sebelum bangsa yang besar makin kehilangan daya akan perilaku generasinya.

Sebelum menutup tulisan ini, penulis teringat sebuah nasehat penuh makna dari Ibnu Athaillah Asy Sakandariy, semoga kita dapat mengambil manfaatnya. Ia berkata: “Tidak ada yang bisa mengusir syahwat atau kecintaan pada kesenangan duniawi selain rasa takut kepada Allah Subhanahu Wataala yang menggetarkan hati, atau rasa rindu kepada Allah Subhanahu Wataala yang membuat hati merana!”

 

Penulis   : Suri Fahmi

Redaktur : Tim Webkonten


Bakat Setiaji Ketum 2017-2020