Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

Jika Ingin Ucapan Kita adalah Mutiara, maka Lakukan Hal Ini

Oleh Nike Shinta


Jika Ingin Ucapan Kita adalah Mutiara, maka Lakukan Hal Ini


Mari membaca. Bukankah buku adalah jendela dunia? Saatnya kita melihat dunia dari balik jendela. Jangan biarkan otak dan pikiran kita hanya terpacu pada televisi saja. Media yang tunduk pada sebuah kepentingan. Antara stasiun televisi yang satu dengan lainnya akan menyajikan pemberitaan yang berbeda meski kejadiannya sama. Mereka juga akan menayangkan hal-hal yang menurut mereka perlu ditayangkan. Mereka berkuasa untuk menggiring opini publik. Kita, sebagai penonton, hanya bisa melihat dan mendengar apa yang mereka tayangkan. Benar atau salah akhirnya bukan menjadi ukuran. Sesuatu yang benar bisa jadi salah karena penilaian publik. Pun sebaliknya, sesuatu yang salah bisa jadi benar lantaran diulang-ulang. Ditayangkan terus-menerus untuk menggiring pemikiran penonton menjadi sesuai dengan yang mereka rancang.

            Berbeda dengan buku, ia memiliki kejujurannya sendiri. Ia akan mengungkap sesuatu yang tak terucap. Ia ditulis berdasarkan riset yang bisa dipertanggungjawabkan. Ia menjadikan manusia tak sekadar bicara, justru lebih banyak diam dan berkata seperlunya karena kata-kata yang keluar dari mulut orang berpengetahuan adalah mutiara. Meski sedikit, ia sangat berharga. Berbeda dengan orang yang hanya membaca sedikit buku tapi ia sudah merasa pandai. Ia sudah merasa bisa. Padahal kemampuan membacanya belum seberapa. Kemampuan berpikirnya pun masih pas-pasan. Dengan membaca satu dua buku saja sudah menjadikannya seolah paling hebat. Padahal orang yang banyak ilmunya, banyak membaca, akan semakin merasa kurang. Ia akan merasa bodoh. Ilmu yang diperolehnya masih sangat sangat tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ilmu Allah yang bila dituliskan dengan tinta yang banyaknya tujuh kali lautan yang ada di dunia, belum cukup untuk menuliskannya.

            Membacalah agar kita menjadi arif dan bijaksana. Dunia ini terlalu ricuh oleh orang-orang yang dangkal ilmunya tapi rajin berkoar. Dunia ini mulai kacau dengan orang yang tak mengerti ilmunya Allah namun merasa sudah banyak mempelajarinya. Dengan membaca, kita telah memberi asupan kepada otak kita supaya lebih berkualitas. Allah pun telah mengingatkan kita dalam surat Al Alaq ayat 1. “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.”

            Melalui surat yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasalam itu, Allah menyuruh manusia untuk membaca supaya manusia memiliki ilmu pengetahuan yang banyak. Supaya kita menjadi insan yang berilmu, bukan hanya beramal. Surat itu memberikan pelajaran kepada kita tentang pentingnya ilmu. Allah lebih menyukai hamba-Nya yang beribadah dengan disertai ilmu. Bukan hanya ikut-ikutan saja tanpa mengerti ilmunya. Orang yang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah.

            Terkadang kita banyak sekali alasan untuk tidak membaca buku. Alasan klasik yang sering kita dengar atau bahkan kita sendiri yang melontarkan adalah karena kesibukan. Terlalu sibuk sehingga tidak sempat membaca. Siapa manusia yang tidak sibuk? Semua orang tentu punya kesibukan masing-masing. Kalau kesibukan menjadi alasan untuk kita tidak membaca, maka sangat disayangkan waktu kita yang hanya sebentar di dunia ini tidak menjadikan derajat kita meningkat di hadapan Allah. Para ilmuwan selalu menyempatkan diri untuk menuntut ilmu. Banyak belajar dan membaca serta berkarya. Hidupnya tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi didedikasikan untuk umat manusia. Jika kita malas membaca, apa yang akan kita berikan untuk umat manusia?

 

Tentang penulis:

Nike Shinta adalah anggota grup ODOJ G1621. Aktivitasnya adalah sebagai penulis dan pendidik. Untuk menjalin silaturrahim bisa menghubungi media sosial instagram @nikeshintanoviyanti dan email nike.shint@gmail.com


Bakat Setiaji Ketum 2017-2020