Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

Kabar "Esok" Hari




Bagaimana jika kabar suatu hari yang itu merupakan akhir, datang menyapa kita? Kira-kira apa reaksi masing-masing kita saat mendengarnya? Kabar itu datang bukan dari siapa-siapa, melainkan Allah subhanahu wata’ala. 

Jika menelisik agak mendalam tentang kondisi atau tanggapan sekalian manusia, ketika dihadirkan ke muka mereka berkenaan Allah, kita dapati bermacam-macam adanya. Mulai dari yang angkuh lagi sombong hingga tunduk lagi lembut. Diabadikan dalam Al-Quran bahwa keadaan orang-orang yang beriman, “(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka…” Ini termaktub indah pada lembaran surah Al-Hajj penggalan ayat 35.

Terabadikan juga dalam awalan surah Al-Anfal ayat kedua, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.”

Di antara reaksi orang-orang yang beriman juga, gemetar kulit mereka lalu tenang setelahnya. Mari kita intip sekilas penggalan indah di surat Az-Zumar ayat 23.

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati merka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.”

Kalau kita ambil persamaannya dari beberapa kondisi orang-orang beriman di atas, saat disebutkan atau dikabarkan atau disampaikan kepada mereka nama Allah dan kalam-Nya, mereka semakin dekat kepada Allah. Kemudian kondisi itu bisa kita sederhanakan dengan satu kata taqwa. Mentaati setiap perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Apalagi beritanya tentang zaman kehancuran, akhir dari dunia ini, ujung dari fatamorgana yang melenakan. Lebih-lebih kabar itu Allah turunkan bersama kitab paling suci. Seyogyanya orang-orang beriman tertanya-tanya perihal amalannya. Jika ada kebaikan yang terlalaikan maka mereka sempurnakan. Kalau didapati diri mereka acap alpa maka minta ampun dan segera meneguk pintu kebaikan apa saja.

Kabar esok hari itu sebagaimana dikalamkan Allah melalui surah Al-Hajj ayat satu sampai empat,
“… sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).Ingatlah pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.

Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat,
yang telah ditetapkan terhadap syaitan itu, bahwa barangsiapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka.
  
Lalu jika kejadian esok hari sebegitu dahsyatnya, bagaimana kita bisa selamat? Sederhana sekali jawabannya, dengan bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Kita bisa temukan di potongan ayat pertama surah Al-Hajj, “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu…”

Dapat kita simpulkan dari taujih rabbaniyyah empat ayat di atas:
Wajib menghiasi diri dengan ketakwaan kepada Allah agar selamat dari kasak-kusuk akhir zaman.
Sesungguhnya keadaan hari kiamat dan efeknya kepada diri manusia sangat keras. Sampai-sampai ibu yang menyusui tidak memikirkan lagi anak yang disusui, gugurnya kandungan semua wanita dan tiba-tiba semua manusia akan mabuk karena saking takutnya padahal mereka sama sekali tidak mabuk.
Sesungguhnya orang-orang yang musyrik kepada Allah berdebat berdasarkan kemungkaran mereka dan tanpa ilmu yang benar. Mereka mengingkari sifat-sifat Allah dan perbuatan-Nya, kodrat-Nya pada hari kebangkitan, menghidupkan setelah kematian dan mereka dalam kebangkangannya mengikuti syaitan. Sementara syaitan hanya membawa kepada kerusakan dan kesesatan. Menggandeng mereka menuju azab jahannam di akhirat.
Ini menunjukkan kepada kita bahwa berdebat atas kemungkaran dan tanpa ilmu adalah haram. Juga dalam mengikuti langkah-langkah syaitan hingga menjauhkan kita dari Allah. Adapun berdebat atas kebenaran berdasarkan ilmu yang benar diperbolehkan. 

Penulis : Muhajir Muslim Jr


Bakat Setiaji Ketum 2017-2020