Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

Kajian Rutin ODOJERS

Hadist by Administrator 12 Des 2015



???? KAJIAN RUTIN ODOJERS ???? ???? Edisi 29 ???? Sabtu, 12 Desember 2015 ???? Hadits ??????? ????? MEMILIH YANG MUDAH DAN MENINGGALKAN YANG SUSAH (Part 1) ????? ???? Abu Hurairah Abdurrahman bin Shahr R.A berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Apa yang kularang, jauhilah, dan apa yang kuperintah, laksanakan semampu kalian. Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah banyak bertanya dan berselisih dengan Nabi mereka.” (Shahih Bukhari no. 6777 dan Shahih Muslim no. 1337) ???? ???? Urgensi Hadits ???? Imam Nawawi berkata, “Hadits ini merupakan dasar-dasar Islam yang sangat penting dan merupakan jawami’ul kalim (ucapan yang singkat dan padat), yang hanya dimiliki Rasulullah SAW. Di dalamnya mencakup berbagai hukum yang jumlahnya tidak terbatas.” ? Yang menjadikan hadits ini sangat penting adalah perintah untuk senantiasa komitmen terhadap syariat Allah SWT, baik berupa larangan maupun perintah, tanpa melakukan penambahan atau pengurangan. ???????????????? ???? Sababul Wurud (Latar Belakang Hadits) ???? Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW berpidato di hadapan kami seraya berkata, “Wahai sekalian manusia, telah diwajibkan kepada kalian Ibadah Haji, maka berhajilah.” Seorang laki-laki bertanya, “Ya Rasulullah, apakah dilakukan setiap tahun?” Rasulullah diam. Hingga orang tadi mengulangnya sampai tiga kali. Maka Rasulullah pun menjawab, “Andai saya jawab ya, tentulah akan diwajibkan setiap tahun. Dan kalian tidak akan mampu.” Setelah itu Rasulullah bersabda, “Biarkanlah apa yang saya diamkan. Sesungguhnya kehancuran umat sebelummu adalah karena mereka banyak bertanya dan berselisih dengan Nabi-nabi mereka. Jika saya perintahkan kepada kalian untuk mengerjakan sesuatu maka tunaikanlah semempu kalian. Dan jika aku melarang sesuatu maka tinggalkanlah.” (Shahih Muslim, Al-Hajj, Fardhul Hajji Marrotan Fil Umri. Hadits no. 1337) ???????????????? ? Kandungan Hadits ????1? Apa yang aku larang, maka jauhilah a???? Larangan yang sifatnya haram ? Adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah melalui Nabi Muhammad SAW dengan berbagai dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan tersebut haram. ? Jika perbuatan ini dilanggar maka akan dihukum dengan hukuman yang setimpal, sesuai dengan ketentuan syara', baik di dunia maupun akhirat. Contoh: larangan zina, minum khamr, mencuri, riba, dan seterusnya. ? Berbagai larangan tersebut harus ditinggalkan seketika. Seorang muslim tidak boleh melakukannya kecuali dalam keadaan dharurat (terpaksa). Itupun dengan berbagai syarat dan aturan yang ditetapkan oleh syari'at. b???? Larangan yang sifatnya makruh ? Kadang disebut dengan nahy tanzihi. Merupakan larangan terhadap satu perbuatan, namun dalil-dalil yang ada tidak menyatakan bahwa larangan tersebut sifatnya haram, namun sifatnya makruh. ? Jika larangan tersebut dilanggar, maka tidak ada hukuman. Contoh: larangan makan makanan berbau bagi orang yang ke masjid untuk melakukan shalat jama'ah, dan lain-lain. ? Larangan yang bersifat makruh tersebut boleh dilakukan, baik sedikit ataupun keseluruhan, meskipun sebaiknya ditinggalkan. ????2? Keterpaksaan menyebabkan dibolehkannya melanggar larangan ? Ketika berada dalam kondisi yang memaksa untuk melakukan sesuatu yang diharamkan, yang jika tidak melakukan akan berakibat fatal bagi dirinya, syari'at memberikan keringanan dengan membolehkan orang yang terpaksa untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya (dalam kondisi normal) dilarang. ???? Allah SWT berfirman, "...tapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia sebenarnya tidak sengaja dan tidak pula melampui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Qs. Al-Baqarah: 173) ? Ayat inilah yang dijadikan landasan oleh para ulama untuk merumuskan kaidah fiqih, "Adh-Dharuratu tubihul mahdzurat" yang artinya keterpaksaan menyebabkan dibolehkannya larangan-larangan. ???? Sebagai contoh, dibolehkannya makan bangkai bagi orang yang tidak memiliki makanan sekali. ? Para ulama, membatasi keterpaksaan pada kondisi yang dialami seseorang dan kondisi tersebut benar-benar mengancam nyawanya, mengancam hilangnya salah satu anggota tubuhnya, menyebabkan sakitnya semakin parah, berbagai hal lainnya yang dapat menyebabkan seseorang tidak mampu menjalankan kehidupan secara normal atau menyebabkan penderitaan yang tak bisa ditanggung. ? Para ulama juga membatasi sejauh mana seseorang dibolehkan melakukan sesuatu yang dilarang dalam keadaan terpaksa. Batasan itu tertuang dalam sebuah kaidah fiqih berikut ini, "Keadaan darurat itu disesuaikan kadar kebutuhannya." ???? Kaidah ini disimpulkan dari firman Allah, "...tidak sengaja dan tidak melampaui batas..." (Qs. Al-Baqarah: 173) To be continued.. ???????????????????? ???? Maraji’: Al-Wafi: Syarah Kitab Arba’in An-Nawawiyah, DR. Musthafa Dieb Al-Bugha Muhyidin Mistu Posted by : Team Syari'ah, Divisi Tsaqafah Islamiyah PSDM ODOJ KRO/29/12/12/2015/Divisi TSI - PSDM ODOJ ??? ???? DTSI Media???? ???? tsipsdmodoj@gmail.com ???? @tsipsdmodoj ???? tsipsdmodoj.tumblr.com

Bakat Setiaji Ketum 2017-2020