Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

Kenalan Dulu

oleh : Wardatul Aini


Kenalan Dulu


“Cemberut mulu, Zir.”

“Aku sebel, Ci.”

Lah, sama aku?” tanya Cici dengan kening mengerut.

“Itu tuh. Aku kesal kenapa harus satu kelompok sama Mia!” Zira mengerutkan bibirnya ke kiri sejauh tiga sentimeter.

“Mia?”

“Itu anak merepotkan aja!” gerutu Zira masih dengan wajah kesal.

Cici tidak mengetahui asal muasal sehingga Zira langsung membenci Mia segitunya.

“Anak pendiam gitu pasti payah diajak kerja!”

“Ya, ampun Zira. Itu permasalahnnya?”

Zira mengiyakan dengan bibir moyong.

“Kamu belum kenal Mia, Zir. Makanya lebih baik kamu kenalan dulu sama orang sebelum memvonis dia begitu dan begitu.”

“Maksud kamu?” Alis Zira terangkat.

“Mia itu kerjanya bagus. Aku kenal Dia karena dia adik kampusku dulu. Memang sih dia pendiam gitu. Tapi, kalau sudah kenal lama dia anaknya enak, kok.

Cici mulai menceritakan perihal Mia yang ia tahu. Beberapa prestasi yang pernah dicetak Mia selama di kampus serta keterlibatan Mia di organinasi yang sama dengannya.

“Mia terbiasa jadi sekretaris kalau ada acara. Kan bagus untuk kamu yang malas nyatat, Zir,” ujar Cici sembari mengangkat-ngangkat alis.

Zira sedikit kikuk mendengar kalimat terakhir yang meluncur dari bibir Cici. Satu hal yang paling ia benci adalah menulis, Zira juga bukan pendengar yang baik.

“Iya, juga, ya,” seru Zira pelan.

“Iya betul. Bukan Cuma iya, ya.” Ledek Cici.

Zira tersenyum kecut.

“Lagian kamu membenci orang tanpa alasan, sih! Sebaiknya kenalan dulu. Di balik kekurangan seseorang pasti ada kelebihan yang dia miliki.”

“Aku terhasut Vio. Katanya dia nggak suka sama Mia karena kalau dikasih tugas suka salah-salah ngerjainnya.”

“Ya, wajar. Dia anak baru. Harusnya diayomi bukan dizalimi.”

“Maksudmu?”

“Vio itu ngasih tugas ke Mia, minta dikerjakan oleh Mia tapi dia nggak jelasin gimana cara buatnya. Ya, wajarlah sebagai anak baru Mia banyak salah. Wong, dia masih kurang tahu bahkan belum tahu seluk beluk SOP kita.”

Zira manggut-manggut penuh khitmat.

“Kamu tahu tidak, Zira? Dulu Rasulullah pernah berpaling saat ada seorang buta datang kepadanya. Lalu, Allah langsung negur “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena ada seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum)”.”

“Aku belum  pernah dengar. Memangnya itu ada di surah apa, Ci?”

“Di Q.S. ‘Abasa ayat 1-2.”

“Ooo ....”

“Setingkat Rasulullah saw langsung ditegur, Zir. Apalagi kita yang banyak salah ini. Sering pula kita berbuat dosa. Siapapun partner kita ya kita terima dengan lapang dada sekalipun kita tidak cocok dengan dia. Masa iya, gara-gara tidak nyaman dengan rekan kerja kita malah tidak menyelesaikan amanah yang sudah dibebankan ke kita?”


Bakat Setiaji Ketum 2017-2020