Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

KETIKA ALAM MENGAJAK BICARA

Oleh Puji Lestari


KETIKA ALAM MENGAJAK BICARA


 

              Langit hari ini mulai cerah kembali. Namun bukan berarti kepiluan seketika terhenti. Bahkan di beberapa wilayah tanah air kita, kehidupan seakan baru memulai babak baru kehidupannya. Di Bantul, Imogiri, Gunung Kidul, Pacitan, Bali, dan yang lainnya. Kehidupan yang semula aman nyaman dan menyenangkan, mendadak lenyap berganti muram dan kepayahan. Semua harus beradapatasi dengan kondisi yang serba darurat.

              Sepekan kemarin kita terhenyak oleh bencana yang seakan datang mengepung dan susul –menyusul. Tak terkira ketakutan yang menghantui dan kerugian yang dialami. Langit pekat berhari-hari, angin bertiup membawa badai, dan udara dingin yang mencipta getir. Air mendadak berubah jadi monster yang begitu ganas. Menerjang, menenggelamkan, menghanyutkan, dan merobohkan apapun yang dilaluinya. Hatta bangunan yang masih baru dan jembatan yang bertahun-tahun berdiri kokoh. Tanah tinggi pun bergetar, meluruh dan roboh. Sungguh pemandangan yang memilukan sekaligus menyeramkan.  Wahai, kenapa alam tiba-tiba menjadi demikian tak ramah?

              “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). QS. Ar Ruum  : 41

              Pernahkah terbetik di sanubari kita, bahwa alam pun punya gaya bahasa sendiri? Jelas sekali Allah  swt  memberitahukan rahasia  gaya bahasa alam dalam ayat di atas. Ya, alam sedang marah pada kita, dan bencana adalah muntahan “kata-katanya” yang sekian lama terpendam. Bukankah selama ini alam begitu sabar menerima apapun perlakuan kita padanya?

              Tulisan ini bukan bermaksud menghakimi, apalagi wujud  ketidakpekaan terhadap musibah yang menimpa saudara sendiri. Tapi ini untuk kita muhasabah, untuk kemudian menyadari dan menyesali, bahwa bisa jadi musibah yang menimpa saudara-saudara kita ada andil kita di dalamnya. Bukankah bumi ini rumah kita bersama? Bisa jadi kita yang salah dan orang lain yang menerima getahnya?

              Sebagai orang berakal kita dituntut untuk mengevaluasi penyebab dari setiap ketidaknyamanan yang kita rasakan. Ketika kita sakit misalnya, pasti sebabnya adalah karena ada ketidak seimbangan dalam tubuh kita. Demikian pula ketika hubungan kita dengan alam tak seimbang, ada yang timpang, ada kepentingan-kepentingan yang memaksa minta selalu diunggulkan. Jadilah ada yang didzalimi dan yang mendzalimi. Kita sebenarnya yang lebih dulu tak ramah pada alam. Menganggap alam akan selalu baik-baik saja, bisa menerima apapun perbuatan kita terhadapnya. Kita kadang lupa bahwa alam pun butuh adaptasi dan perlakuan khusus untuk menerima perubahan yang dilakukan makhluk yang menghuninya.  

              Pohon penyimpan oksigen ditebangi tanpa uapaya penanaman kembali, tanah penyerap dan penyimpan cadangan air ditutupi bangunan-bangunan tanpa celah penghijauan, got-got pun tak luput dari sampah yang dibuang sembarangan. Maka wajar  jika air hujan mencari jalannya sendiri. Ia tetap dengan tabiatnya, mengalir dari  tempat tinggi ke yang rendah, berjuang sekuat tenaga mencari  jalan “hidupnya.” Demikian pula dengan tanah yang butuh “penyangga” untuk tetap kokoh.

              Dan juga sebagai  orang yang beriman, kita dituntut untuk menelisik perilaku kita, hati kita, iman kita. Apa yang tidak beres dari diri kita ini? Bukankah Allah member I selalu kebaikan, dan keburukan itu datangnya karena ulah kita sendiri?  Dengan demikian agar kita sadar dan tidak salah dalam mencari solusi. Tidak parsial,  tidak diam pasrah pada keadaan, apalagi menyalahkan Tuhan. Manakala kita sadar atau tidak sadar sudah menyakiti alam, itu artinya ada yang salah dengan kita. Maka sepantasnya introspeksi dan taubat mengiringi usaha kita untuk berdamai kembali dengan alam.

               Ibarat sakit kronis, yang mendesak saat ini tentu pengobatan yang tepat. Kita bantu dan dukung sepenuhnya  korban bencana, sebagai wujud empati dan maaf yang mungkin sulit terkatakan dan terakui. Dan mulailah dari diri sendiri kita  mengobati penyakit yang menyebabkan bencana terjadi.  Perbaiki  sikap kita pada lingkungan, agar tak lagi ada tumpukan sampah di kanan kiri, tak ada lagi got-got yang tersumbat, sungai yang tercemari. Jadikan kegiatan-kegiatan mencintai alam sebagai agenda kolektif yang memiliki nafas panjang untuk terus dilanjutkan. Jangan sampai anak cucu kita warisi akhlaq yang buruk terhadap alam dan lingkungan yang selama ini memberi kita kenyamanan. Mencintai alam dan memeliharanya adalah wujud syukur dan tanda benarnya keimanan.  Wallahu’alam.

 

#Facebook Comment

Comment cannot load, error Facebook App ID.

Bakat Setiaji Ketum 2017-2020