Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

KISAH KASIH FEBRUARI

Oleh Asiah Ahmad


KISAH KASIH FEBRUARI


“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang di antara kamu dengan orang-orang yang pernah kamu musuhi di antara mereka. Allah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” QS. Al Mumtahanah; 7.

 

"Ini bulan Februari, ya? Valentine dong. Kita makan, yuk!" ajak seorang kakak lelaki tetangga depan rumah. Sebut saja namanya Kak H.

"Emmm, di mana?" jawabku polos. Maklum masih diusia 1 SMU. Aku belum pernah berhubungan dekat dengan lelaki mana pun. Kalau sekedar teman sekolah ada beberapa. Itupun hanya teman diskusi pelajaran sekolah saja.

"Di dekat terminal ada restoran tapi khusus kue aja. Kita makan kue, yuk! Nanti tunggu aku jemput jam 4 sore, tanggal 14, ya!" ajaknya lagi.

"Gimana nanti, ya! Aku nggak berani janji," jawabku sambil mengacungkan dua jari telunjuk dan jari tengah. Sambil senyum-senyum aku masuk ke kamar. Meninggalkan dia .

 

Aku tidak ingat pastinya tanggal berapa Kak H itu mengajak makan. Tapi yang pasti mendekati hari valentine. Heemmm, makan? Rasanya tawaku ingin meledak. Aku tidak bisa membayangkan. Seorang Asiah yang cupu diajak makan siang oleh seorang lelaki. Hahaha ... Tawaku beneran meledak.

 

"Ihhh, kenapa tertawa? Mama jadi takut. Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya mama khawatir. "Nggak, Ma. Lucu aja," jawabku senyum-senyum.

 

Ketika tanggal 14 Februari, aku menunggu Kak H. Tapi dia tak pernah lewat depan rumahku. Dengan gontai aku ke warung yang berada di depan rumah.

 

"Kelihatannya lesu, kenapa?" tanya kakak sepupuku.

"Mmm, nggak kenapa-kenapa?" jawabku.

"Pasti lagi nunggu pujaan hati, ya?" tanyanya lagi.

"Kok tahu?" tanyaku mendekatinya. Penasaran.

"Tahu dong," jawabannya makin buat aku penasaran. Tapi dia malah pergi menjauhiku sambil tertawa.

"Nanti aja aku ceritain, deh," sambungnya lagi.

 

Esoknya, aku bertemu teman sekelas. Tak pernah aku berbincang lama dengannya. Kali ini entah mengapa dia mengajakku bicara tentang valentine.

 

"Teman-teman rayain valentine, ya? Kamu ikutan juga, Asiah?" tanyanya.

"Hahaha, nggak lah. Pacar saja nggak punya," jawabku tertawa.

"Sebenarnya dalam Islam kasih sayang itu nggak punya moment khusus. Setiap hari adalah hari kasih sayang. Apalagi valentine itu kan orang Nasrani yang merayakannya," jelasnya bijak.

"Iya?" tanyaku.

"Lihat di mading, deh! Ada sebab musababnya valentine. Islam melarang itu,"

"Nanti aku lihat," jawabku.

"Umi sama abiku nggak pacaran. Mereka langsung menikah karena dijodohkan. Tapi pernikahannya awet, alhamdulilah," jelasnya lagi.

"Iya, ya? Rasul saja nggak pacaran. Beliau malah dipinang sama Siti Khadijah. Jadi yang namanya pegang tangan atau bentuk kasih sayang lainnya ditunjukan menjadi pahala, bukan dosa, ya?" tanyaku.

"Iya, Rasulullah nggak pacaran. Kalaupun punya istri lebih dari satu, itu hanya untuk menyelamatkan harga diri seorang perempuan janda. Bukan nafsu semata," ujar temanku.

 

Hmmm, betul juga. Panggilan sayang 'Humairah' yang diberikan Rasulullah kepada Siti Aisyah pun setelah menikah. Bukan saat pacaran. Beda dengan anak sekarang, sebelum menikah mereka panggil pasangannya dengan sebutan mama-papa. Jadi merasa diingatkan. Malu. Kemarin masih menunggu Kak H untuk janji makan sore. Duh, ampuni aku ya, Allah.

 

Setelah pulang sekolah, saudara sepupuku cerita tentang obrolannya dengan Kak H, dua hari lalu.

 

"Tadi malam habis apel, ya?" tanya saudaraku.

"Nggak. Pacaran aja belum. Aku mau ajak dia makan, sekalian mau nembak dia. Memang kenapa?" tanya Kak H.

"Hati-hati, lho! Mamanya kan orang Batak. Kamu tahu, kan?" jawab saudaraku.

"Lha terus kenapa?" tanya Kak H lagi.

"Orang Batak itu suka makan orang. Hati-hati dimakan, lho!" tegas sepupuku. Raut muka Kak H itu berubah takut. Tak lama ia pamit.

"Lho, mau ke mana?" tanya saudaraku.

"Mau mandi. Sebentar lagi masuk kerja, shift sore," jawabnya sedikit berlari pergi meninggalkan rumahku.

Aku tidak kuat menahan tawa. Ketika saudaraku itu bercerita.

"Sssttt, kamu nggak marah kan?" tanyanya.

"Nggak lah. Malah aku berterima kasih sekali mau membantuku lepas dari ajakan makan siangnya," jawabku sambil berdiri menuju kamar.

 

Syukurlah, Allah masih sayang sama aku. Suatu hari nanti, aku berharap jodohku akan bisa mengajakku ke surga. Aamiin.

 

________
Asiah
Odalf G_097
Ibu Rumah Tangga
FB Asiah Ahmad


Bakat Setiaji Ketum 2017-2020