Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

Mencintai Tanpa Henti

Hikmah by Administrator 07 Okt 2016



Mencintai Tanpa Henti

Di antara doa yang sering saya munajatkan adalah, “Ya Allah, wafatkan aku dalam kondisi mencintai jalan dakwah, dan jangan wafatkan aku dalam kondisi membenci jalan ini.”

Saya tidak ingin menjadi seseorang yang mengurai kembali ikatan yang telah direkatkan, mengungkit segala yang telah diberikan, dengan perasaan menyesal dan meratapi segala yang pernah terjadi di jalan ini.

Saya mendapatkan kemuliaan berada di jalan ini. Mendapatkan banyak saudara, mendapatkan banyak ilmu, memiliki banyak pengalaman, mengkristalkan banyak hikmah, menguatkan berbagai potensi diri, menajamkan mata hati dan mata jiwa.

Luar biasa, sebuah jalan yang membawa berkah melimpah.

Merugilah mereka yang telah berada di jalan ini tetapi tidak mampu menikmati.

Maka mari kita nikmati jalan dakwah ini, “sebagai apapun” atau “tidak sebagai apapun” kita.

Posisi-posisi dalam dakwah ini datang dan pergi. Bisa datang, bisa pergi, bisa kembali lagi, bisa pula tidak pernah kembali.

Bisa “iya” bisa “tidak”. Iya menjadi pengurus, pejabat, pemimpin dan semacam itu; atau tidak menjadi pengurus, tidak menjadi pejabat, tidak menjadi pemimpin, tidak menjadi apapun yang bisa disebut.

Sebagai apapun atau tidak sebagai apapun, kita harus terus berada di jalan ini dan tetap mencintai tanpa henti.

“Ya Allah, wafatkan aku dalam kondisi mencintai jalan dakwah, dan jangan wafatkan aku dalam kondisi membenci jalan ini.” Aku ingin selalu bersama kafilah dakwah. Aku ingin selalu mencintai jalan dakwah. Aku ingin selalu berada di jalan dakwah.

Hanya kematian yang sanggup mengistirahatkan.

Hanya kematian.

 

Yogyakarta, 7 Oktober 2016

Kontributor : Ustadz Cahyadi Takariawan


Bakat Setiaji Ketum 2017-2020