Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

MENEMUKAN CINTA YANG HILANG

Oleh Alfi Bahaviani


MENEMUKAN CINTA YANG HILANG


Januari 2017

Suara-suara ribut teman-temanku yang membahas universitas membuat kupingku panas. Tidak adakah hal lain yang bisa mereka bicarakan? Akhirnya aku memilih untuk menjauh. Mencari sesuatu yang bisa menghindarkan pendengaranku dari hal-hal berbau universitas.

Akhirnya aku memilih duduk di bangku panjang depan kelasku. Melihat sekeliling area sekolahku. Gerakan tiba-tiba seseorang yang duduk di sebelahku membuatku refleks menengok. Itu temanku, Lulu namanya. Gadis cantik agak berisi, dikelasku dia paling jago menggambar. Aku suka dengan gambar-gambarnya, apik.

“Kenapa Lu?” Tanyaku saat melihat wajah cemberutnya.

“Engga apa-apa. Badmood aja.”

“Kuliah?” Tebakanku tepat saat Lulu menjawab dengan anggukan.

“Aku bakal nunda kuliah, Fi. Bapakku baru aja di PHK. Masih ada adeku juga. Engga enak mau minta kuliah. Aku juga engga pinter kayak kamu, engga bisa dapet beasiswa.”

“Hehehe kalo aku pinter seharusnya aku juga udah kuliah, Lu.” Balasku dengan tidak bersemangat. “Engga apa-apa, Lu. Nunda bukan berarti kita engga bisa. Cuma perlu sabar aja, yang penting kita usaha, doa juga.”

            Ucapanku pada Lulu sore itu sebenarnya untuk melapangkan hatiku. Hanya untuk menguatkan hatiku, bahwa aku baik-baik saja.

***

Juni 2016

            “De kamu engga jadi kuliah?” Tanya Ulfah, kakak kelasku.

            “Engga tau ka. Masih nunggu satu pengumuman lagi. Semoga yang ini goal, hehe.”

            “Iya engga apa-apa. Yang penting doa sama usahanya sejalan terus ya. Harus seimbang.” Aku mengangguk. “Nanti kalo emang belum kuliah, engga boleh nyesel. Engga boleh marah sama Allah. Semua ada jalannya, oke? Nanti kakak pasti bantuin cari seminar-seminar supaya setahun kamu engga kebuang gitu aja.” Lagi-lagi aku hanya menjawab dengan anggukan.

            “Oh iya kamu udah gabung sama ODOJ?”

“ODOJ?” Aku memasang wajah bingung mendengar kata asing itu.

“Iya, komunitas One Day One Juz. Jadi kita harus ngaji minimal sehari satu juz.”

“Kakak ikutan?”

“Alhamdulillah udah 2 tahunan ini, de. Ayo sih kamu ikut. Lumayan  buat moodboster ibadah tau. Hehehe.” Mendengar penjelasan Ka Ulfah, aku sedikit tertarik.

“Hmm boleh deh, gimana caranya ka?” Sejurus kemudian, Ka Ulfah mengajariku cara mendaftar ODOJ. Aku sempat merasa takut. Takut jika nanti tidak bisa mengikuti program itu dengan baik. Apalagi, Ka Ulfah bilang komunitas ini sangat besar. Link-nya sampai ke luar negri.

            Malam harinya, sebuah notifikasi Whatsapp dari nomer asing masuk ke telepon genggamku.

Arie : Assalamu’alaikum, benar ini dengan De Afi?

Afi : Wa’alaykumsalam, iya benar. Maaf ini dengan siapa?

Arie : Saya Arie, De. Admin grup ODOJ 1452. Kemarin De Afi daftar ODOJ kan ya?

Afi : Iya mba betul.

Arie : Alhamdulillah, saya angkut ke grup ya. Nanti silahkan kenalan dengan member lama. Mulai besok sudah bisa ikut laporan ya de.

Afi : Oh iya mba, Jazakillah.

Arie : Waiyyaki.

            Dan benar saja, tidak lama kemudian sebuah grup baru masuk kedalam deretan chat whatsapp-ku. Aku mencoba berbaur, menyapa hangat semua penghuni grup 1452 itu. Balasan hangat dari beberapa member yang sedang online membuatku tersenyum. Bismillah, semoga ini menjadi awal yang baik.

***

September, 2016

            Malam itu, setelah berbulan-bulan lulus dari SMA. Kemudian luntang-lantung tidak jelas mencari tempat kuliah, sebuah e-mail yang masuk ke telepon genggamku sukses membuat aku meluruh. Satu-satunya harapan terakhirku melanjutkan kuliah hilang sudah. Bayangan menghabiskan masa kuliah di salah satu negara Eropa sana buyar.

            Tangisanku merebak. Rasanya aku hanya ingin berteriak, memaki semua takdir. Tidak ada lagikah yang lebih kejam dari ini? Katanya, kalo kita sering tahajjud, sering tilawah, sering bersodaqoh, Allah akan mengabulkan permintaan kita. Tapi kenapa tidak denganku?

Rasa frustasi menyerang diriku. Ya, begitulah sistemnya ketika kamu berharap lebih pada sesuatu selain Allah. Bukan, hanya kecewa tapi juga rasa sakit yang membuatmu kadang menjadi lepas diri dan tidak tahu harus apa lagi. Dan, itulah yang aku rasakan saat ini.

Malam itu, luka dihati ini melebar. Tidak tahu lagi harus apa dan bagaimana. Hidupku serasa usai malam itu.

***

Januari 2017

            Aku merasa kehilangan cinta. Berbulan-bulan merutuki nasib, semua kehidupanku kacau. Akibat dari berantakannya poros imanku, ibadah. Sholat hanya sekedera menunaikan kewajiban, puasa hanya sebatas membayar hutang, dzikir hanya saat refleks, tilawah sedapatnya saja.

            Berkali-kali ku ingat, Mba Arie mengingatkanku untuk menata ulang tilawahku. Bahkan, aku sempat masuk list peringatan karena beberapa kali tidak selesau tilawah. Sungguh, hidupku serasa semakin kacau.

            Sampai akhirnya, di suatu sore aku bertemu dengan teman satu grup di ODOJ yang kebetulan juga adalah teman liqo ku. Dulu, aku yang mengajaknya masuk ODOJ. Tapi kini, dialah yang lebih sering mengingatkanku untuk tilawah. Bersabar dengan sikapku yang acuh pada ibadah.

            “Fi, Allah tahu loh kamu begini.” Aku hanya diam, mengaduk-aduk mie ayamku yang sudah mulai dingin. “Engga kamu banget tau engga sih. Engga usah jadi orang yang sok lemes. Sok engga punya semangat. Padahal kamu orang paling energik sedunia yang aku tau.” Aku mulai melihatnya, mendengar apa yang akan ia katakan lagi.

            “Denger aku ya, Allah bilang gini di Al Quran, ”Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmu lah kamu berharap.” (QS Al Insyirah : 5-8).” Hening sejenak.

            “Aku engga ngerasain seberapa berat yang kamu rasa sekarang, Fi. Aku engga tau lagi harus bantu apa untuk ngurangin beban kamu. Yang aku mau hanya, kamu tetap pada jalan kebaikanmu. Seperti Afi kemarin yang aku kenal. Yang selalu semangat ingetin aku ibadah. Bukan yang kayak gini. Berhenti terlalu berharap sama manusia, kamu cuma akan dapet capek aja. Jangan nyiksa diri kamu sendiri, Fi.”

            “Hidupmu kacau, karena ibadahmu kacau. Ayo, tuntasin lagi sehari sejuz. Kita istiqomah sama-sama. Pelan-pelan. Oke?”

Sedetik kemudian, aku menghambur kedalam pelukannya. Menangis tergugu mengingat semua kelalaianku beberapa bulan belakangan. Betapa bodohnya aku menyiakan nikmat yang Allah beri. Allahummaghfirlii. Allahummaghfirlii.

Sore itu, di awal tahun 2017, aku menemukan cinta yang hilang. Cinta yang mengajakku pulang kembali ke rumah kecil penuh semangat itu. Allah, semoga Engkau merahmati setiap orang yang mengantarku agar kembali pada cinta Mu yang hakiki.


Bakat Setiaji Ketum 2017-2020