Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

Menyayangi Bayi, Meski Lahir dari Hasil Perzinaan

Parenting by Administrator 30 Sep 2015



Menyikapi fenomena sex bebas dan perzinaan yang kian marak akhir-akhir ini.

Na'udzubillah.. semoga kita dan keluarga terlindung dari hal-hal yang demikian. Allahumma Aamiin.

 

Di antara bukti yang menunjukkan belas kasih Nabi Muhammad SAW kepada bayi dan keinginan beliau yang kuat agar bayi tumbuh menjadi besar dari air susu ibu ialah kisah wanita dari Bani Ghamidiyah.

 

Ketika wanita tsb datang kepada Nabi dan mengaku bahwa dirinya telah mengandung dari perzinaan, beliau bersabda kepadanya, "Pulanglah sampai kamu melahirkan." Setelah melahirkan, ia datang lagi seraya menggendong bayinya dan berkata, "Wahai Nabi Allah, bayi ini telah saya lahirkan." Akan tetapi, Nabi bersabda kepadanya, "Pulanglah, susuilah ia sampai kamu menyapihnya." Setelah wanita itu menyapihnya, ia datang dengan membawa bayinya yang sedang memegang sepotong roti di tangan. Ia berkata, "Wahai Nabi Allah, bayi ini telah saya sapih dan kini ia sudah bisa makan sendiri." Nabi pun memerintahkan agar bayi itu diserahkan kepada salah seorang lelaki dari kaum muslimin dan memerintahkan agar dibuatkan galian sebatas dada untuk menanam tubuh wanita itu. Kemudian beliau memerintahkan kepada orang-orang untuk merajamnya dan mereka pun segera merajamnya. (HR Muslim, no. 3298)

 

Mencermati makna hadits ini, kita akan menemukan pesan-pesan yang menakjubkan, antara lain:

1. Ketika Nabi SAW yakin bahwa wanita tsb mengandung dari hubungan zina, beliau tidak memberikan isyarat apa pun terhadapnya agar melakukan aborsi, baik janinnya belum sempurna maupun sudah sempurna. Berbeda dengan apa yang sering dilakukan oleh orang yang mengandung karena berzina pada masa sekarang, yaitu menggugurkan kadungannya. Mereka telah membunuh jiwa tanpa alasan yang dibenarkan.

2. Rasulullah memerintahkan agar wanita tsb pulang dan tinggal di rumahnya sampai melahirkan kandungannya.

3. Setelah melahirkan, Rasulullah memerintahkan kepadanya agar pulang lagi, guna menyusui bayinya sampai masa penyapihan. Wanita itu pun menyusuinya sampai tiba masa penyapihannya dan bayinya sudah mulai bisa makan roti.

4. Nabi SAW menyerahkan bayi itu kepada salah seorang di antara kaum muslimin agar dirawat dan dididik.

 

Itulah kasih sayang Nabi SAW terhadap anak hasil zina dan keinginan beliau yang kuat agar bayi itu tidak terlantar.

Apa dosa anak yang baru lahir itu hingga ia harus menanggung konsekuensi perbuatan dosa orang tuanya?

 

Source: Islamic Parenting - Pendidikan Anak Metode Nabi (Syaikh Jamal Abdurrahman, 2010), page 43-44

-Divisi Tsaqofah Islamiyah PSDM ODOJ-

 

Redaktur : Tirai Wisely


Bakat Setiaji Ketum 2017-2020