Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

PUISI : Sakratul Maut

Oleh Isti Anindya


PUISI : Sakratul Maut


*) Tentang jiwa yang sedang mempersiapkan diri, namun waktu tak akan memberi kita celah melakukan itu, termasuk pada saudara-saudara kita yang kembali dalam tragedi bencana alam baru baru ini. Mari sejenak berdoa untuk mereka. 

 

SAKRATUL MAUT

 

Debu pekat hitam menampar wajahku,

Kekeringan ilalang menjerat kerongkonganku,

Percikan serat-serat rotan itu menggigit tulangku yang masih dibasahi daraj dan nanah…

 

Gigi-gigi makhluk malam yang geram,

Siap menerkam pita-pita suaraku,

Pagi…tak kunjung menghampiri

Kicauan mencekap binatang penikmat darah,

Mencabuti bulu-bulu romaku,

Angin malam menyebar memaksakan diri menyumbat aliran nadi

Pagi…tak kunjung menghampiri

Ku tatap disetiap dinding berapi

Keringat-keringat lahar membasahi setiap sendi diri,

Semuanya luruh bersama nafsu…

 

Malam terus menatap sengit padaku,

Tombak-tombak penuh bara itu menancap satu persatu di atas tenggorokkanku

Pedang-pedang yang terasah tajam itu mulai menyayat tipis setiap lembar paru-paruku

 

Malam yang tak kunjung menghilang

Dipanku bergetar menarik helaan nafas

Kakiku terasa dipasung ribuan batu kejam

Tanganku beku bak ditikam baja jahanam

Isi hatiku mencair dan melebur dalam adonan kehancuran

 

Ku tatap benda yang berdetak di sudut terang,

Jarumnya menusuk mataku, menekan nafasku

Aku kembali…

Seketika saat alunan sendu itu menyapa timpaniku

Kakiku beku serupa tersengat listrik yang menjalari dari ujung kaki hingga…

Merambat ke hulu jantungku,

Dan…

Semua gelap…

Membiaskan nafas penutup hariku…

 

“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau”.

[Al Qiyamah: 26-30]

 

#Facebook Comment

Comment cannot load, error Facebook App ID.

Bakat Setiaji Ketum 2017-2020