Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

Refleksi Diri sebagai Khalifah

Oleh Muhajir Muslim Jatar


Refleksi Diri sebagai Khalifah


Mari kita merenungi sejenak tentang keberadaaan kita di atas bumi. Agar dengannya kita semakin memahami berkenaan kemuliaan diri, dengannya kita kian tunduk dalam kesyukuran pada ilahi. Ini adalah kisah tentang kita. Kita yang berharga.

 

Dikatakan dalam riwayat bahwa manusia bukan makhluk pertama yang menghuni bumi. Sebelumnya sudah ada ciptaan Allah yang hidup di bumi. Namun yang ada hanya kerusakan, permusuhan dan pertumpahan darah antar sesama. Makhluk yang lebih dulu dari kita di bumi adalah Jin.

 

Bersebab itu kita dinamakan khalifah, pengganti mereka yang sebelum kita. Ini menurut salah satu riwayat ulama tafsir. Ada juga yang mengatakan bahwa disebut khalifah karena manusia saling menggantikan satu sama lain. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita menjalankan tugas sebagai seorang khalifah.

 

Jikalau kita adalah pengganti jin, yang sebelumnya menduduki bumi, namun berbuat kerusakan, maka bagaimana ihwalnya kita? Kalau seandainya diri ini acap berbuat rusak, saling dengki, menyebar fitnah dan saling memusuhi, lalu apa bedanya kita dengan golongan yang sebelumnya? Mari kita merenung tentang diri.

 

Ketika para malaikat bertanya sebagaimana yang termaktub pada surat Al-Baqarah ayat tiga puluh,

“…Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih, memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

 

Kemudian pada potongan indah selanjutnya di surat Al-Baqarah ayat 31, 32 dan 33, Allah secara zahir menampakkan kemulian pada manusia,

“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, ‘sebutkan kepada-Ku nama semua benda ini, jika kamu yang benar!”

 

“Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”

 

“Dia (Allah) berfirman,’Wahai Adam Beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu!’ Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Dia berfirman, ‘Bukankah telah aku katakana kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?”

 

Satu hal yang bisa kita tangkap dari tiga ayat di atas adalah tentang pengetahuan. Ilmu berkenaan sesuatu. Itu yang mengangkat derajat kemuliaan kita sebagai manusia dibanding sekalian malaikat beserta makhluk lainnya. Tiada yang lebih baik daripada memiliki ilmu. Bagian ini merupakan rahmat yang luar biasa dari Allah untuk kita.

 

Nikmat ilmu seyogyanya kita fungsikan untuk memaksimalkan tugas sebagai khalifah. Menjalankan, menghidupkan dan memajukan peradaban sebagai bentuk kesyukuran. Seandairnya saat ini kita masih saja saling baku hantam, menyulut permusuhan, mengambil hak yang semestinya jatah bagi yang lain, saling berprasangka buruk dan saling menjatuhkan bahkan antar sesama saudara seiman, apa gunanya ilmu yang dianugerahkan pada kita? Jika hanya ilmu yang kita punya malah tidak membawa misi rahmatan lil alamin? Apa kita sudi zaman kita hanya makar dan bencana lalu Allah gantikan dengan generasi yang lebih baik? Mari kita merenung tentang diri.   

#Facebook Comment

Comment cannot load, error Facebook App ID.

Bakat Setiaji Ketum 2017-2020