Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

Spirit Ramadhan Terakhir




“(Kehidupan itu) tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, (di sanalah) kita mati dan hidup dan tidak akan dibangkitkan (lagi)”
(Q.S. Al-Mu’minun : 37)

Menuju finish bulan ramadhan, sudah sampai manakah kita berlari mencapai-Nya? Tinggal menghitung hari , maka bulan ramadhan akan kembali meninggalkan kita. Bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini akan segera berlalu. Bagaimana dengan ramadhan kita? Sudahkah kita memaksimalkan ramadhan kita? Atau tidak ada perubahan berarti dengan bulan-bulan lainnya? Dan kita menganggap bahwa ramadhan hanyalah satu bulan seperti bulan-bulan lainnya.

Tidak segera menjawab panggilan adzan, sibuk dengan tumpukan pekerjaan yang tiada pernah berhenti. Sholat subuh kesiangan, dzuhur mendekati akhir waktu, ashar terlewat karna macet di perjalanan pulang , magrib sibuk dengan acara buka bersama, isya terlewat karena terlalu lelah beraktifitas. Kalau sudah begitu, tarawih, tahajud, dan dhuha pastilah hanya wacana. Bagaimana dengan alquran? Masih tersimpan rapih di dalam laci meja? Atau dengan cantik menghias lemari buku kita? Padahal bulan ini adalah juga bulan alquran.

Sebegitu sombongkah kita dengan ramadhan ini, hingga kita begitu santai bila ramadhan ini berlalu begitu saja. Atau jangan-jangan kita sudah merasa puas dengan amalan yang kita miliki, hingga kita merasa tidak perlu mengoptimalkan ramadhan kali ini. Padahal bisa jadi ini adalah ramadhan terakhir kita. Bisa jadi kita tidak dapat bertemu dengan ramadhan di tahun berikutnya.  Padahal jika kita mampu bersungguh-sungguh saat mengerjakan tugas-tugas kantor kita, mengapa kita tidak bisa bersungguh-sungguh dalam beribadah? Ada ungkapan seperti berikut :

“Bekerjalah  untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok”

Jadi seharusnya jika untuk urusan dunia kita melakukan dengan sungguh-sungguh, maka begitu pula untuk urusan akhirat. Bila kita mampu membaca modul ujian berjam-jam dengan melawan kantuk. Maka seharusnya begitu pula ketika kita hendak bertilawah, lawan mesti rasa kantuk datang. Bila kita mampu berjam-jam berdiri saat nonton konser favorit kita. Maka kita juga harus mampu berdiri lama menjalankan ibadah tarawih yang hanya ada saat bulan ramadhan. Bila kita kuat saat nonton bioskop selama 2-3 jam. Mengapa kita tidak kuat mendengar ceramah di masjid-masjid? Padahal bisa jadi ini adalah ramadhan terakhir kita. 

“Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya. Serta orang yang memelihara sholatnya. Mereka itulah orang yang akan mewarisi. (yakni) yang akan mewarisi (Surga) Firdaus. Mereka kekal didalamnya.”
(Q.S. Al-Mu’minun : 8-11)

Ramadhan belum berakhir, masih ada waktu untuk kita memperbaiki ramadhan kita. Menjadikan ramadhan ini seakan-akan ramadhan terakhir yang akan kita temui. Mengoptimalkan puasa kita ,hingga bukan hanya lapar dan haus saja yang kita dapatkan, tapi hingga kita mampu mendapatkan hikmah dari puasa yang kita jalani. Mari luruskan niat, untuk ramadhan yang mungkin terakhir bagi kita.

Penulis : Roswita Puji Lestari

Editor.   : Fandrisha Zhahira


Bakat Setiaji Ketum 2017-2020