Please wait...
00/00/0000 00:00:00 WIB

Tafsir Al Quran Surat Al-Falaq

Al Quran by Administrator 27 Nov 2015



1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai shubuh;

2. Dari kejahatan makhluk-Nya;
3. Dan dari kejahatan malam apabila Telah gelap gulita;
4. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul;
5. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”

Asbabun Nuzul
Surat Al-Falaq terdiri dari lima ayat dan tergolong Makkiyyah (diturunkan sebelum hijrah). Bersama surat An-Nas, ia disebut-Mu’awwidzatain. Disebut demikian karena keduanya mengandung ta’widz (perlindungan). Keutamaan surat Al-Falaq selalu disebut bersamaan dengan surat An-Nas.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah sakit parah, sehingga datanglah kepadanya dua malaikat, yang satu duduk di sebelah kepalanya dan yang satu lagi duduk di sebelah kakinya. Berkatalah malaikat yang berada di sebelah kakinya kepada malaikat yang berada di sebelah kepalanya: "Apa yang engkau lihat?" Ia berkata: "Dia kena guna-guna." "Apa guna-guna itu?" "Guna-guna itu sihir." "Siapa yang membuat sihirnya?" Ia menjawab: "Labidbin al-A’syam Alyahudi yang sihirnya berupa gulungan yang disimpan di sumur keluarga Si Fulan di bawah sebuah batu besar. Datanglah ke sumur itu, timbalah airnya dan angkat batunya kemudian ambillah gulungannya dan bakarlah." Pada pagi harinya Rasulullah SAW Mengutus Ammar bin Yasir dan kawan-kawan. Setibanya di sumur itu tampaklah airnya yang merah seperti pacar. Air itu ditimbanya dan diangkat batunya serta dikeluarkan gulungan tali yang terdiri atas sebelas simpul. Surat Al-Falaq dan An-Nas turun berkenaan dengan peristiwa itu. Setiap kali Rasulullah SAW mengucapkan satu ayat terbukalah simpulnya. (Penguat hadits ini turut terdapat dalam riwayat Sahih Bukhari).
 

Penjelasan Ayat pertama

“Katakanlah: "Aku berlindung kepada Allah dari cuaca Shubuh.”"
Allah adalah tempat berlindung. Nabi SAW dan kita semuanya diperintahkan agar berlindung dengan Allah. Sebagian dari kekuasaan Allah itu ialah bahwa Dia menciptakan dan membuat suasana cuaca Shubuh. Dalam ayat Al-Falaq yang tertulis di ujung ayat kita artikan cuaca Shubuh, yaitu ketika perpisahan diantara gelap malam dengan mulai terbit fajar hari akan siang. Dengan hikmat tertinggi Allah SWT mewahyukan kepada Rasul-Nya akan kepentingan saat pergantian hari dari malam kepada siang itu. Waktu sebagai modal hidup sehari semalam 24 jam lamanya.
Kita diminta untuk memohon perlindungan kepada yang menguasai cuaca Shubuh itu. Berlindung kepada Allah SWT agar terlepas dari segala bahaya yang ada di hadapan kita, yang kita sendiri tidak tahu. Al-Falaq juga diartikan dengan peralihan. Peralihan dari malam ke siang.
Maka berlindunglah kita kepada Allah, dalam sebutan-Nya sebagai Rabb, yang berarti mengatur, mendidik dan memelihara; supaya berkenanlah kiranya Allah melindungi kita dari kemungkinan-kemungkinan bahaya yang terkandung pada pergantian siang dan malam.
 

Penjelasan Ayat ke - dua

“Dari kejahatan apa-apa yang telah Dia ciptakan."

Semua makhluk ini Allah lah yang menciptakannya; baik langit yang terdiri dari matahari, bulan dan bintang gemintangnya, sampai kepada awan-awan berarak. Atau bumi dengan segala isi penghuninya, laut dan daratnya, serta bukit dan jurangnya. Semuanya adalah ciptaan Allah, sedang kita manusia ini hanyalah satu makhluk kecil saja yang terselat di dalamnya.
Dan segala yang telah diciptakan Allah itu bisa saja membahayakan bagi manusia, meskipun sepintas lalu kelihatan tidak apa-apa.
Hujan yang lebat bisa menjadi banjir dan kita ditimpa celaka kejahatan banjir, hanyut dan tenggelam.
Panas yang terik bisa menjelma menjadi kebakaran besar, dan kita bisa saja turut hangus terbakar.
Gunung yang tinggi yang sepintas lalu menjadi perhiasan alam serta penangkis angin dan ribut, bisa runtuh dan longsor, kita pun mati terhimpit dalam timbunan tanah.
Lautan yang luas dapat kita layari. Tetapi kapal yang kita tumpangi bisa saja dihantam badai, tiang patah, atau tersandung gunung salju, kapal pun tenggelam, kita pun mati.
Naik pesawat adalah alat transportasi yang paling cepat di zaman modern ini. Bisa saja ada awan yang sangat tebal sehingga tidak dapat ditembus penglihatan, sehingga tiba-tiba pesawat terbentur gunung, dia pun hancur dan kita pun turut hancur di dalamnya. Atau badai di laut yang sangat besar sehingga pesawat itu tidak dapat mengatasinya, dia pun tenggelam dan kita pun turut tenggelam ke dalam perut lautan.
Bermain-main di bawah pohon kayu besar. Tiba-tiba angin puyuh datang berhembus, pohon itu tumbang, kita mati dihimpitnya.
Naik kereta api yang tergelincir relnya, sehingga jatuh dan hancur.
Naik mobil yang tiba-tiba tidak terkendalikan, sehingga masuk ke dalam jurang.
Kita sedang enak-enak berjalan di jalan raya, tiba-tiba ada orang mengamuk, siapapun yang bertemu ditikamnya, kita pun kena.
Kompor minyak yang digunakan perempuan memasak di dapur, tiba-tiba meletus, perempuan yang tengah memasak itu tersiram minyak tanah, terbakar dan mati.
Orang yang sedang naik sepeda kencang, tiba-tiba terbentur ke batu besar, terlempar badannya, lalu menabrak tiang sehingga pecah kepalanya dan mati.
Maka semua yang diciptakan Allah itu mungkin saja ada bahayanya yang tidak kita sangka. Kita manusia hanyalah satu makhluk kecil yang hidup di antara makhluk-makhluk Allah yang jauh lebih besar dan lebih dahsyat.
Sebuah paku kecil yang berada di jalan raya. Apalah artinya sepaku kecil itu? Namun, jika tiba-tiba paku kecil tadi terinjak oleh seseorang yang berjalan kaki tanpa alas kaki, padahal paku kecil tadi berkarat. Orang tersebut bisa saja terkena infeksi yang pada akhirnya berujung pada kematiannya. Dan itu semua bermula dari sebuah paku kecil di jalan, yang tak memiliki arti.
Oleh sebab itu maka dapatlah dikatakan bahwa di mana-mana ada bahaya. Kita tidak boleh lupa hal ini. Allah sebagai Pencipta seluruh alam Maha Kuasa pula menyelipkan bahaya pada barang-barang atau sesuatu yang kita pandang remeh.
Maka, di dalam ayat ini kita diperintahkan untuk meminta perlindungan diri kepada Allah, yakni Rabb yang memiliki arti sebagai penjaga, pemelihara, pendidik dan pengasuh, agar diselamatkanlah kiranya kita dari segala bahaya yang mungkin ada di seluruh alam yang Ia ciptakan. 
 

Penjelasan Ayat ke - tiga

“Dan dari kejahatan malam apabila dia telah kelam.”
Apabila matahari telah terbenam dan malam telah datang menggantikan siang, dan semakin matahari terbenam ke bumi, maka semakin bertambah kelamlah malam. Kelamnya malam merubah sama sekali suasana. Di rimba-rimba belukar yang lebat, di padang-padang dan gurun pasir timbullah kesepian dan keseraman yang mencekam.
Maka pada malam hari itu berbagai ragam bahaya dapat terjadi. Binatang-binatang berbisa seperti ular dan lipan keluar di malam hari. Kita tidur dengan nyenyak, siapa yang memelihara kita dari bahaya ketika kita tidur itu kalau bukan Allah?
Pencuri pun keluar pada malam hari ketika orang-orang sedang tidur. Terkadang, saking enaknya tidur, sehingga kita sama sekali tidak tahu dan menyadari kalau segala barang-barang berharga yang ada dalam rumah diangkat dan diangkut pencuri. Setelah bangun pagi baru kita kaget melihat barang-barang penting milik kita yang berharga telah lenyap.
Dalam kehidupan modern di kota-kota besar lebih dahsyat lagi bahaya malam. Orang-orang tenggelam dalam lautan hawa nafsu, yang tidak lagi menuntut kesucian hidup. Pada malam hari itulah dia keluar dari rumah ke tempat-tempat maksiat. Di malam harilah harta-benda dimusnahkan di meja judi atau dalam pelukan perempuan jahat. Di malam hari suami mengkhianati istrinya. Di malam harilah gadis-gadis remaja yang hidup bebas dirusak keperawanannya, dihancurkan masa depannya oleh manusia-manusia yang tidak pula mengingat lagi masa depannya sendiri, yakni akhirat.
Oleh sebab itu kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah sebagai Rabb dari bahaya kejahatan malam apabila dia telah kelam.
 

Penjelasan Ayat ke - empat
“Dan dari kejahatan wanita-wanita peniup pada buhul-buhul."
Yang dimaksud disini ialah bahaya dan kejahatan mantra-mantra sang dukun. Segala macam mantra atau sihir yang digunakan untuk mencelakakan orang lain.
Ada satu perbuatan yang disebut TUJU! Dalam pemakaian kata secara umum, kata tuju berarti titik akhir yang dituju dalam perjalanan. Yang bisa dikatakan juga dalam bahasa Arab, maqshud. Apa yang dituju, dengan apa yang dimaksud adalah sama artinya. Tetapi di dalam Ilmu Sihir dan mantra dukun-dukun, TUJU itu mempunyai arti yang lain, yaitu menujukan ingatan, fikiran dan segala kekuatan kepada orang tertentu. Menujukan kekuatan batin terhadap orang itu, dengan maksud jahat kepadanya, sehingga walaupun berjarak yang jauh sekali, akan berbekas juga kepada diri orang itu. Dengan adanya ayat ini nyatalah bahwa Al-Qur’an mengakui adanya hal-hal yang demikian. Jiwa manusia mempunyai kekuatan batin tersendiri di luar dari kekuatan jasmaninya. Kekuatan yang demikian bisa saja digunakan untuk maksud yang buruk. Di dalam bahasa Minangkabau kata-kata TUJU itu terdapat sebagai bagian dari sihir. Ada TUJU gelang-gelang, yaitu dengan membulatkan ingatan jahat kepada orang yang dituju, orang itu dapat saja sakit perut. Gelang-gelang atau cacing yang dalam perut orang itu bisa membangkitkan penyakit yang membawa sengsara, bahkan membawa maut bagi yang dituju! Gelang-gelang Si Raya Besar, atau gelang-gelang si Ma-u-wek!Selain dari itu ada Tuju yang bernama gayung, ada yang bernama tinggam, ada yang bernama gasing. Dalam bahasa Jawa begitu pula rupanya yang dimaksud dengan kata-kata “nuju wong," yang arti harfiahnya menuju orang, maksudnya ialah menyihir orang.

Penjelasan Ayat ke - lima
Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” 
Dengki/hasad itu bermaksud apabila seseorang membenci nikmat yang diberikan kepada orang lain dan selalu berharap agar nikmat itu hilang. Orang yang dengki sanggup melakukan apa saja agar orang yang didengkinya merana.
Oleh sebab itu, Allah SWT mengajarkan kita agar meminta pertolongan dan perlindungan kepada-Nya kerana hanya Dia yang Maha Berkuasa untuk melindungi makhluk-Nya dari segala bahaya. ?

 

Maraji': Tafsir Al-Azhar & Tafsir Ibnu katsir

Posted by: Tim Syari'ah Divisi Tsaqafah Islamiyah PSDM ODOJ

RTO/26/27/11/2015/Divisi TSI - PSDM ODOJ

????
 DTSI Media
 tsipsdmodoj@gmail.com
 @tsipsdmodoj
 tsipsdmodoj.tumblr.com


Bakat Setiaji Ketum 2017-2020