Choose Your Color

Informasi

OSM / Oase Dakwah

Seindah Apa Ukhuwah Lillah?

Seindah Apa Ukhuwah Lillah?

  • 2020-09-24 15:59:37.333464
  • kepenulisan
  • OSM / Oase Dakwah

Oleh: @rochma_yulika


Ukhuwah indah hingga jannah harapan kita semua. Namun ingin mencapainya tentu tidak mudah, butuh pengorbanan agar selalu ada keselarasan.
Menjalin persaudaraan di jalan Allah tidak hanya ingin tersenyum bersama di dunia tapi mampu bertahan bersama walau kadang ada duka yang dirasakan. 

Kita belajar tentang bagaimana berukhuwah yang sudah dijalani oleh Nabi Musa. Dalam QS Taha ayat 25-35. Musa berkata, “Wahai Tuhanku, luaskanlah untukku dadaku, permudahlah bagiku urusanku, Lepaskanlah kekeluan pada lidahku dengan tutur kata yang lancar, Agar mereka memahami perkataanku, Dan adakanlah penolong bagiku dari keluargaku, Yaitu Harun saudaraku, Kuatkanlah aku dengannya dan teguhkanlah kekuatanku dengannya, Dan jadikanlah dia teman bersamaku dalam kenabian dan penyampaian risalah (Mu), Agar kami bisa menyucikanMu dengan bertasbih banyak-banyak, Dan kami banyak mengingat-Mu, dan kemudian kami memuji-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat kami, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagiMu dari perbuatan-perbuatan kami.”

Ada beberapa syarat ukhuwah yang seharusnya kita pahami. Bila mengacu pada ayat di atas ada 3 hal yang menjadi prasyarat untuk menjalani ukhuwah lillah. Pertama, saling tolong menolong dalam kebaikan, tetap bersama dalam suka dan duka, dan saling mengingatkan untuk bertasbih kepada Allah. Banyak nasihat bisa kita petik dari kebersamaan Musa dan Harun. Kita ambil pelajaran sehingga kita bisa menjalin saudara hingga di keabadian.

Dr Majdi Al Hilali dalam buku Rakaizud Dakwah menjabarkan garis besar syarat-syarat ukhuwah yang perlu kita pahami bersama. Beliau menyatakan bahwa dalam berukhuwah tidak ada tendensi yang sifatnya keduniawian semata apalagi berkaitan dengan materi. Berukhuwah lillah karena dorongan iman yang kuat karena ingin dijalin hingga surga. Banyak riwayat sejak zaman Rasulullah bahwa ukhuwah yang dilandasi karena Allah semata akan mengabadikan cinta yang tak berbatas waktunya.

Adapun syarat berukhuwah antara lain:
1. Ukhuwah harus murni karena Allah hal ini akan membantu membersihkan hubungan yang sifatnya subyektif. 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡۚ لَوۡ أَنفَقۡتَ مَا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعًا مَّآ أَلَّفۡتَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيۡنَهُمۡۚ إِنَّهُۥ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamumenginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
(QS.Al-Anfal: 63)


2. Ukhuwah harus dilandasi iman dan taqwa. Perlu memilih teman yang memiliki kualitas taqwa agar bisa menjadikan kita orang yang memiliki ketaqwaan kepada Allah. 

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ. اَلتَّقْوَى هَهُنَا. يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ : بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ. 

Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh tidak menzaliminya, merendahkannya dan tidak pula meremehkannya. Taqwa adalah di sini. – Beliau menunjuk dadanya sampai tiga kali-. (kemudian beliau bersabda lagi:) Cukuplah seseorang dikatakan buruk bila meremehkan saudaranya sesama muslim. Seorang Muslim terhadap Muslim lain; haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. ([HR. Muslim][9] Shahîh Muslim Syarh Nawawi, tahqîq: Khalîl Makmûn Syiha, Dârul-Ma’rifah, Beirut, Libanon, XVI/336-337, cet. III – 1417 H/1996 M. Kitab al-Adab; al-Birr wash-Shilah wa al-Adâb, no. 6487).

3. Ukhuwah harus konsiten dengan ajaran Islam yang rujukannya adalah Al Quran dan Sunnah. 

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : 
‎لاَتَبَاغَضُوْا وَلاَ تَحَاسَدُوْا وَلاَ تَدَابَرُوْا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki dan saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara[Muttafaq ‘Alai] 
(Fathul Bâri Syarh Shahîhil Bukhâri, X/492, Kitab al-Adab, bab : 62, no. 6076. Dan Shahîh Muslim Syarh Nawawi, tahqîq: Khalîl Makmûn Syiha, Dârul-Ma’rifah, Beirut, Libanon, XVI/331-332, cet. III – 1417 H/1996 M. Kitab al-Adab; al-Birr wash-Shilah wa al-Adâb, no. 6473)

4. Ukhuwah harus berdasar saling memberi nasihat di jalan Allah.

Saling ingat-mengingatkan supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran harus tetap berjalan, sebab hal itupun merupakan perintah Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman: 
‎وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran."
(Q.S. Al-Ashr/103:1-3)


5. Ukhuwah harus dibangun atas dasar saling membantu dan menyokong satu sama lain baik dalam suka dan duka.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits yang dibawakan oleh an-Nu’mân bin Basyîr Radhiyallahu anhu : 
‎مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمَّى. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِي وَمُسْلِمٌ (وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ). 

Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur. 
[HR. Bukhâri dan Muslim, sedangkan lafalnya adalah lafazh Imam Muslim]. (Fathul Bâri Syarh Shahîhil Bukhâri, X/438, Kitab al-Adab, bab : 27, no. 6011. Dan Shahîh Muslim Syarh Nawawi, tahqîq: Khalîl Makmûn Syiha, XVI/356, Kitab al-Adab; al-Birr wash-Shilah wa al-Adâb, no. 6529)

Mari berukhuwah lillah niscaya mudah langkah kita hingga Jannah.


◇◇•◇◇•◇◇•◇◇•◇◇•◇◇
AIHQ - DK PSDM ODOJ
AIHQ/545/24/09/2020
oaseodoj@gmail.com
Fp : AIHQ Onedayonejuz

🔸🔹🔸🔹🔸🔹🔸