Choose Your Color

Informasi

Kegiatan

DENGAN KEHADIRANMU, WAHAI RASULULLAH

DENGAN KEHADIRANMU, WAHAI RASULULLAH

  • 2020-10-23 10:32:47.172709
  • kepenulisan
  • Kegiatan

Setelah beberapa jam menempuh perjalanan dari Jeddah, akhirnya kami hampir sampai juga ke kota Madinah. Tak lama kemudian, dari kejauhan terdapat tulisan selamat datang di Al-Madinah Al-Munawwarah. Membacanya, tiba-tiba sekujur tubuh merinding ….

“Ya Allah, sampai juga aku di sini!” ujarku dalam hati. Entah mengapa, memasuki kota suci ini terasa ada yang berbeda. Aku yang duduk di bangku terdepan bus, tiba-tiba merasa sangat tidak pantas untuk terus duduk. Aku pun berdiri lalu turun, mendekati suami yang duduk di bangku kecil di sebelah kanan sopir. Posisi pengemudi di bus itu memang lebih rendah dari bangku-bangku penumpang. Sopir di sebelah kiri, lalu di kanan ada bangku duduk yang biasa ditempati para tour leader. Waktu itu, kami berdua  menjadi pemandu para jemaah umroh yang berasal dari beberapa kota di JawaTimur.

Saat itu aku baru menyadari, mengapa Imam Malik setiap memasuki kota Madinah selalu turun dari kendaraannya dan memilih berjalan kaki. Itulah yang juga kurasakan. Ingin berjalan saja, karena ada Rasulullah Saw di sana. Perasaan malu, canggung, dan segan bercampur aduk. Bagaimana kita terus di atas kendaraan yang tinggi, sementara Baginda yang mulia sedang beristirahat di dalam tanah Madinah.

Rasa canggung itu semakin menjadi-jadi ketika aku memasuki Masjid Nabawi. Serasa bertamu ke dalam kediaman Rasulullah Saw. Seakan beliau menjawab salam, lalu mengawasi gerak-gerik selama di masjid beliau. Itulah mengapa aku merasa malu untuk berpose di dalam, ataupun mengobrol yang tidak berguna sambil menunggu waktu salat tiba. Rasa-rasanya lebih nikmat untuk berdialog dengan beliau, dalam untaian shalawat maupun tilawah Al-Qur’an.

Itulah perasaanku ketika berada di Madinah. Merasakan begitu dekat dengan Rasulullah Saw. Sayangnya, tidak mudah untuk selalu pergi ke Madinah. Selain membutuhkan biaya yang tidak sedikit, juga ada pembatasan-pembatasan dalam pemberian visa. Apalagi di masa pandemi sekarang, begitu sulit untuk menunaikan ibadah ke Tanah Suci. Masjid Nabawi dan Masjidil Haram terasa tidak mudah untuk dikunjungi biarpun kerinduan telah membuncah dalam hati.

Tahun demi tahun telah berlalu dari masa indah bertamu kepada Rasulullah. Peristiwa demi peristiwa pun terjadi sebagai bumbu kehidupan. Suatu kali aku  mengalami sedikit peristiwa kegagalan dalam perjalanan studi yang saat itu sungguh menyedihkan. Hampir saja putus asa untuk melanjutkan proses belajar. Alhamdulillah, Allah mengirim bantuan melalui nasihat seorang sahabat. Dia menyuruhku untuk bershalawat atas Nabi Muhammad Saw dalam hitungan tertentu secara istiqomah. Tujuannya agar hati aku tenang, pikiran jernih, dan tentunya untuk mendapatkan syafaat beliau.

Segala puji bagi Allah, saat itu hatiku benar-benar tentram. Sepertinya, Rasulullah Saw menemani setiap langkah dan pilihan yang kuambil. Bertepatan saat itu adalah bulan Rabi’ul Awwal, bulan kelahiran Rasulullah Saw. Bulan di mana ummat Islam lebih banyak mengingat Rasulullah Saw dari bulan-bulan lain. Saat itu sekaligus aku merasa bahwa selama bertahun-tahun terakhir ini begitu bodoh, merasa bahwa Rasullah hanya dapat dirasakan kehadirannya di Madinah saja. Padahal di mana pun dan kapan pun, beliau siap hadir dan ikut menyaksikan semua yang kita lakukan.

“Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah/9:105)

Untuk itu, mari kita hadirkan Rasulullah Saw dalam setiap aktivitas agar beliau selalu menemani setiap langkah. Mengingat beliau, seakan malu  ketika minum sambil berdiri. Merasakan hadirnya beliau, sungguh malu untuk memarahi anak kecil,  menghardik kucing, ataupun sekedar membuang bungkus permen di jalanan. Mengingat beliau,  hati lebih tegar, bahkan ketika ada yang memaki. Seolah beliau memegang pundak sambil berkata, “Tahan… setiap sesuatu ada balasannya. Sabar, agar nanti bersamaku di surga!” Sungguh, engkau pahlawan sejatiku, wahai Rasulullah!  Allaahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad!

 

Tentang Penulis:

Dr. Fera Andriani Djakfar, Lc., M.Pd.I. Member ODOJ 275 (sejakFebruari 2015). Kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (MDTA) Al-Mukhlishin Perumahan Nilam Bangkalan Indah, pendiri dan Pembina Majelis Ta’lim Utrujah Perumahan Nilam Bangkalan Indah, Ketua Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Bahasa Arab STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan-Madura. Salah satu penulis dalam antologi KUTEMUKAN CINTA-MU bersama para ODOJERS, diterbitkan oleh penerbit Republika. Temukan aktivitas Fera dan Daily Quotes hasil kontemplasinya di IG: @feraandriani.djakfar