Choose Your Color

Informasi

Kegiatan

LANTUNKAN DENGAN CINTA, GAPAILAH RAHMAT-NYA

LANTUNKAN DENGAN CINTA, GAPAILAH RAHMAT-NYA

  • 2020-12-03 23:07:50.393171
  • Administrator
  • Kegiatan

 

Setiap selesai membaca ataupun mendengarkan ayat  al-Qur’an, kita sering berdoa: “Ya Allah, rahmati kami dengan al-Qur’an! Jadikan ia pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat.”  Ya, al-Qur’an memang tidak bisa dilepaskan dari rahmat atau kasih sayang. Hal itu tidaklah mengherankan, karena al-Qur’an merupakan kalamullah, firman dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang, ar-Rahmaân dan ar-Rahîim.

Allah berfirman dalam QS: Al-A'raf (7):204: “Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.”

Dari ayat tersebut, Allah memberi tahu kita, bahwa hanya dengan diam pada saat  dibacakan al-Qur’an, kita sudah bisa mendapatkan rahmat-Nya. Jika dengan menyimak saja kita sudah mendapatkan kasih sayang dari-Nya, bagaimana jika kita yang membacanya? Tentu tidak lepas dari rahmat atau kasih sayang Allah yang melimpah ruah. Namun, membaca yang bagaimana yang bisa mengundang cinta-Nya? Tentu saja membaca yang sesuai dengan adab dan syari’at yang sudah diajarkan Allah melalui Rasulullah Saw. Di antara syari’at yang diwajibkan adalah,  pembaca al-Qur’an harus suci dari hadats kecil maupun besar.

Adapun yang terkait dengan adab atau hal yang disunnahkan dalam membaca al-Qur’an, di antaranya: menghadap kiblat, bersiwak sebelum tilawah, dan membacanya dengan tartil atau pelan dan benar sesuai kaidah ilmu Tajwid. Apakah semua syari’at dan adab itu berat untuk dilakukan? Jika segala aturan itu terasa berat dan ribet,  berarti ada yang salah dengan kita dalam membaca al-Qur’an. Jangan-jangan kita masih dalam tahap  ‘terpaksa’.

Apakah salah membaca al-Qur’an karena paksaan? Jika diniatkan sebagai proses untuk istiqomah, maka tidak ada masalah. Ada kalanya itu yang dirasakan oleh para Odojer baru. Mereka merasa dikejar-kejar oleh laporan. Bisa jadi, tilawahnya masih disebabkan ketakutan akan terlambat laporan. Seiring dengan berjalannya waktu, ketakutan seperti itu akan hilang, karena sudah berubah menjadi kebiasaan. Dalam dirinya sudah ada alarm yang mengingatkan akan tilawah, sehingga tidak ada lagi alasan lupa.

Jika proses ini terus berlanjut, lama-lama yang dia rasakan adalah ada yang kurang jika belum tilawah. Dalam tahapan ini, tilawah sudah menjadi sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan. Bangun tidur, ingat akan tilawah. Bahkan jika esok hari banyak kegiatan, maka sejak malam sudah dipertimbangkan pula kapan akan tilawah.

Apabila seseorang sudah berada dalam fase cinta tilawah, maka hatinya akan dipenuhi oleh al-Qur’an. Segala yang dia lakukan, rujukannya kepada al-Qur’an. Di telinganya terngiang-ngiang ayat-ayat al-Qur’an. Sebagaimana layaknya orang yang sedang jatuh cinta, maka tilawah yang dilakukannya pun dengan sepenuh hati, bertartil, pelan, syahdu, dan penuh penghayatan. Layaknya seorang pecinta menyenandungkan lagu pada kekasihnya. Tidak ada lagi alasan kesibukan, karena seorang pecinta pasti mengutamakan yang dicintainya. Tidak ada lagi alasan listrik padam, dalam perjalanan, atau alasan apapun juga, tilawah tetap dirindukan. Bagi para pecinta sejati seperti itulah, Allah akan balas pula dengan cinta dan rahmat-Nya, dan Dia sekali-kali tidak pernah ingkar janji.

 

Tentang Penulis

Dr. Fera Andriani Djakfar, Lc., M.Pd.I adalah member ODOJ 275 (sejak Februari 2015). Kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (MDTA) Al-Mukhlishin Perumahan Nilam Bangkalan Indah, pendiri dan pembina Majelis Ta’lim Utrujah Perumahan Nilam Bangkalan Indah, Ketua Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Bahasa Arab STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan-Madura. Salah satu penulis dalam antologi KUTEMUKAN CINTA-MU bersama para ODOJERS, diterbitkan oleh penerbit Republika. Temukan aktivitas Fera dan Daily Quotes hasil kontemplasinya di IG: @feraandriani.djakfar

 

Sumber gambar: https://www.idntimes.com/life/inspiration/ganjar-firmansyah/7-kebaikan-yang-kamu-dapatkan-jika-rutin-membaca-al-quran-c1c2-1