Choose Your Color

Informasi

Kegiatan

Menghadirkan Cinta Lewat Lantunan Ayat-Nya

Menghadirkan Cinta Lewat Lantunan Ayat-Nya

  • 2020-12-03 23:43:41.139606
  • Administrator
  • Kegiatan

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah, baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh. Aku tidak mengatakan ‘alif laam miim’ itu satu huruf, akan tetapi, Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” (HR. Tirmidzi no. 2915. Dinilai shahih oleh Al-Albani).

 

 “Aaaa...A’udzubillahi.... A’udzubillahi minassyaithoonn...nirr...nirrojiimmm...”

“Bismillaahirrohmaanirrohiiimm...”

Aku mendengar di balik bilik tempat sholat rumahku yang tidak begitu luas. Mukena terusan berwarna putih dan sosok itu menghadap sebuah tempat kayu Al Qur’an. Tangannya menggenggam sebuah alat untuk menunjuk bacaan Al Qur’an dan kacamata plus yang ia kenakan, menjadi teman setia yang tak boleh ketinggalan. Ia begitu serius membaca Al Qur’an. Itulah ibuku yang baru belajar terbata-bata. Hari itu adalah hari pertama ia membuka mushaf, setelah sebelumnya belajar menggunakan buku tilawati sebagai media belajar.

Ibuku adalah wanita yang berusia 54 tahun. Sekitar setengah tahun ini, Allah berikan kesempatan padanya untuk mengenal Al Qur’an. Sedikit-sedikit belajar buku tilawati dengan nada yang ia mampu. Cinta itu mulai tumbuh seiring kedekatannya dengan Al Qur’an. Mulanya, ia sangat enggan untuk berlatih, takut matanya akan mudah lelah dan tidak percaya diri dengan usianya. “Ah.. ibu sudah tua, mana bisa ibu belajar huruf arab yang banyak itu!?”

Waktu itu, aku masih berusia 22 tahun. Aku ingin sekali ibu melantunkan ayat Al Qur’an. Berbagai cara aku upayakan, membujuk setiap selesai mengaji, ataupun mengajak ke majelis ta’lim atau pengajian. Namun masih gagal, Allah belum meridhoi. Hingga 2 tahun kemudian, ibuku harus opname di rumah sakit Jogjakarta. Vonis jantung bengkak yang diberikan oleh dokter spesialis membuatku kaget. Selama ini yang kami tahu, ibu menderita hipertensi.

Dengan pelan-pelan dan kerendahan hati, aku sedikit-sedikit membacakan Al Qur’an di telinga ibuku. Dalam tangis hati ini, aku sangat berharap hati ibuku dibuka oleh Allah untuk belajar Al Qur’an. “Sudah nduk, ibu istirahat dulu. Ngajinya kamu lanjutkan nanti ya...” aku menutup mushaf berwarna pink dan kuletakkan di meja sebelah tempat ibuku berbaring di ruang opname.

Atas izin Allah, berselang seminggu ibuku diperbolehkan keluar rumah sakit. Ia menjalani hari-hari dengan obat-obat yang diberikan dokter. Sekali waktu, aku berbisik lagi padanya. “Bu, masih belum ingin belajar iqro’?” Ibu hanya melirik dan menghela nafas.

Beberapa bulan kemudian, ketika aku pulang ke rumah dari tanah rantau. Aku mendapati buku biru bertuliskan tilawati di ruang sholat rumah. Aku masih heran, siapa yang membacanya. Apakah kepunyaan tetangga ketinggalan di rumah?

“Buku tilawatinya ini punya siapa bu?”

“Oh... itu dari pengajian malam Jumat. Disuruh beli sama ketua pengajiannya. Katanya untuk belajar.”

Alhamdulillah... ini bagaikan kesejukan bagiku. Akhirnya, Allah bukakan pintu hidayahNya untuk ibu. Dan semoga akupun bisa kecipratan pahalanya. Semoga Allah senantiasa meridhoi.

Ketika Ramadhan tiba, ibu bertanya. Apakah kita bisa mengkhatamkan Al Qur’an setebal ini? Aku menjawab, “Insyaallah sangat bisa buk... di coba saja sehari 1 juz atau 10 lembar. Insyaallah bisa khatam” Ibuku tersenyum dan sorot matanya menunjukkan cinta yang dalam untuk kalam Allah.

 

Allah Ta’ala berfirman, “Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad [38]: 29).
 

Aprilia Ayu – admin odoj G1242

IG: @april_ayy