Choose Your Color

Informasi

OSM / Oase Dakwah

Untuk Perempuan Indonesia

Untuk Perempuan Indonesia

  • 2020-12-28 10:31:53.92683
  • kepenulisan
  • OSM / Oase Dakwah

Oleh: @rochma_yulika


Berkiprah menjadi perempuan yang memiliki banyak peran menjadi keharusan karena hidup butuh karya terbaik untuk bekal di kehidupan yang tak bertepi. 
Dari penggalan satu ayat dalam QS Al-Israa’: 7, yang bermakna, 
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri."

Kiprah perempuan yang utama adalah mendidik dirinya menjadi pribadi yang berakhlak mulia.  Pengaruh akhlak perempuan akan punya dampak yang cukup besar. 
Karena sosok perempuan akan melahirkan generasi yang menjadi aset peradaban. 
Maka banyak bijak bestari yang mengatakan bahwa baiknya para perempuan akan baiknya sebuah peradaban. 
Ada juga yang menyatakan bahwa ibu adalah tiang negara. Baiknya seorang ibu akan punya pengaruh besar atas tegaknya sebuah negara. 

Mengapa demikian? 
Kita cermati lebih dalam pengaruh ibu terhadap generasi yang dilahirkan. Ketika seorang perempuan hamil, baik sikap, kebiasaan yang dilakukan, juga tindak tanduk yang selama kehamilan ada akan berdampak kepada keturunannya. 
Banyak pakar yang menyampaikan bahwa pembentukan karakter pada anak terjadi sejak bayi berada di dalam kandungan. 
Maka butuh belajar untuk memerbaiki diri terus sehingga keturunannya pun akan berkarakter kuat. 

Contoh ada yang seorang ibu yang rajin tilawah ketika hamil, anak yang akan dilahirkan sangat mungkin juga akan senang untuk bertilawah. Begitu sebaliknya ada seorang ibu yang sering malas akan dimungkinkan anak yang dilahirkan juga akan malas. 
Nah itu ketika hamil.

Setelah bayi lahir kemudian dia tumbuh dan berkembang yang jadi model pertama adalah ibunya. 
Karena dari mata terbuka sampai tertutup yang dilihat adalah ibunya. Dan akan ada saatnya sang anak meniru gerak gerik ibunya sampai pilihan kata dan cara pengucapannya. 
Itu tak kita pungkiri memang demikian.

Jika ingin memiliki generasi terbaik maka jadilah sosok yang bermartabat. 
Yakni yang selalu menjaga taat, menjaga semangat, menjaga tabiat, mewaspadai tindakan maksiat dan hati-hati terhadap setan yang akan menjerat. Seperti apa seharusnya sosok perempuan yang bisa melahirkan generasi teladan? 
Kita simak kisah berikut.

Suatu hari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikunjungi seorang wanita yang ingin mengadu.
“Wahai syeikh, saya seorang ibu rumah tangga yang sudah lama ditinggal mati suami. Saya sangat miskin, sehingga untuk menghidupi anak-anak, saya merajut benang di malam hari, sementara siang hari saya gunakan untuk mengurus anak-anak  dan menyambi sebagai buruh kasar di sela waktu yang ada. Karena saya tak mampu membeli lampu, maka pekerjaan merajut itu saya lakukan apabila sedang terang bulan”.

Imam Ahmad menyimak dengan serius penuturan ibu tadi dengan seksama. Perasaannya miris mendengar ceritanya yang memprihatinkan. 
Dia adalah seorang ulama besar yang kaya raya dan dermawan. Sebenarnya hatinya telah tergerak untuk memberi sedekah kepada wanita itu, namun ia urungkan dahulu karena wanita itu melanjutkan pengaduannya.

“Pada suatu hari, ada rombongan pejabat negara berkemah di depan rumah saya. Mereka menyalakan lampu yang jumlahnya amat banyak sehingga sinarnya terang benderang. Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera merajut benang dengan memanfaatkan cahaya lampu-lampu itu. Tetapi setelah selesai saya sulam, saya bimbang, apakah hasilnya halal atau haram kalau saya jual ?!

Bolehkah saya makan dari hasil penjualan itu ?! Sebab, saya melakukan pekerjaan itu dengan diterangi lampu yang minyaknya dibeli dengan uang negara, dan tentu saja itu tidak lain adalah uang rakyat”.

Imam Ahmad terpesona dengan kemuliaan jiwa wanita itu. 
Ia begitu jujur, di tengah masyarakat yang bobrok akhlaknya dan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tanpa peduli halal haram.

Maka dengan penuh rasa ingin tahu, Imam Ahmad bertanya, “Ibu, sebenarnya engkau ini siapa?!” Dengan suara serak karena penderitaannya yang berkepanjangan, wanita ini mengaku, “Saya ini adik perempuan Basyar Al-Hafi”.

Imam Ahmad rahimahullah makin terkejut. Basyar Al-Hafi rahimahullah adalah Gubernur yang terkenal sangat adil dan dihormati rakyatnya semasa hidupnya. Rupanya, jabatannya yang tinggi tidak disalahgunakan-nya untuk kepentingan keluarga dan kerabatnya. Sampai-sampai adik kandungnya pun hidup dalam keadaan miskin.

Dengan menghela nafas berat, Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Pada masa kini, ketika orang-orang sibuk memupuk kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan menggerogoti uang negara, menipu serta membebani rakyat yang sudah miskin, ternyata masih ada wanita terhormat seperti engkau, ibu. Sungguh, sehelai rambutmu yang terurai dari sela-sela jilbabmu jauh lebih mulia dibanding dengan berlapis-lapis serban yang kupakai dan berlembar-lembar jubah yang dikenakan para ulama”.

“Subhanallah, sungguh mulianya engkau, hasil rajutan itu engkau haramkan? Padahal bagi kami itu tidak apa-apa, sebab yang engkau lakukan itu tidak merugikan keuangan negara.”

Kemudian Imam Ahmad rahimahullah melanjutkan,
“Ibu, izinkan aku memberi penghormatan untukmu. Silahkan engkau meminta apa saja dariku, bahkan sebagian besar hartaku, niscaya akan kuberikan kepada wanita semulia engkau”.

Masya Allah. Allahu Akbar. Bila ada ribuan perempuan yang penuh kehati-hatian dan berakhlak mulia seperti ini maka peradaban akan sampai pada kejayaannya. Islam akan sampai pada masa keemasan. Adakah kita punya harapan untuk itu? Mari kita teladani kisah yang penuh inspirasi tersebut dan segera mengubah diri menjadi lebih baik. Bismillahirrahmanirrahim.

◇◇•◇◇•◇◇•◇◇•◇◇•◇◇
AIHQ - DK PSDM ODOJ
AIHQ/571/28/12/2020
oaseodoj@gmail.com
Fp : AIHQ Onedayonejuz

🔸🔹🔸🔹🔸🔹🔸