Choose Your Color

Informasi

Kegiatan

Semangat Cinta Al Quran di Tengah Peperangan

Semangat Cinta Al Quran di Tengah Peperangan

  • 2021-06-17 08:44:07
  • Administrator
  • Kegiatan

Apa yang terlintas di benak kita saat mendengar kata Palestina? Perang, konflik, Israel, terzalimi, dan sederet kata-kata lain memenuhi pikiran kita. Sudah bukan rahasia lagi bahwasannya rakyat Palestina menjadi korban atas kekejaman orang-orang Yahudi tak punya hati. Jutaan orang di muka bumi ini menyatakan dukungannya kepada Palestina lewat berbagai aksi nyata. Bahkan, orang-orang yang notabene bukan beragama Islam pun ikut menyuarakan protes atas aksi kejam yang dilakukan tentara Israel kepada rakyat Palestina.

Hal ini bukan lagi soal agama, melainkan soal kemanusiaan yang akan menggugah hati nurani siapa saja yang masih dipenuhi oleh rasa kemanusiaan. Orang-orang tanpa dosa dihujani bom yang meluluhlantakkan semuanya. Anak-anak yang asyik bermain tiba-tiba ditembak mati. Para kaum wanita turut menjadi sasaran agar tidak lagi melahirkan para putra putri pilihan. Ambisi dan kekuasaan menjadikan orang-orang Israel buta dan tidak punya hasrat lain, kecuali menzalimi rakyat Palestina.

               Di sisi lain, di tengah peperangan yang mencekam, semangat untuk menghafal Al Quran rakyat Palestina sangat luar biasa. Ada ratusan bahkan ribuan penghafal yang diwisuda tiap tahunnya. Al Quran senantiasa diletakkan di hati mereka. Tidak pernah ada ketakutan dan keraguan untuk membela agama Allah subhanahu wa ta’ala. Selama Al Quran tetap terjaga dan semangat menghafal tetap membara, tidak pernah sekali pun mereka gentar untuk menghadapi musuh.

               Di tengah kondisi yang mencekam, kurangnya makanan, obat-obatan, tenaga medis, dan semua kebutuhan hidup, rakyat Palestina tetap mengutamakan untuk selalu menghafal Al Quran dan menjaga hafalan itu agar tetap melekat di hati dan ingatan. Sebab, salah satu syarat untuk menjadi pejuang Hamas untuk melawan Israel adalah mereka harus hafal Al Qur’an. Maasyaa Allah. Betapa barokahnya wakktu yang mereka miliki yang sehari-harinya tidak pernah lepas dari Al Quran.

               Anak-anak mulai usia tujuh hingga sepuluh tahun telah banyak yang menjadi penghafal Al Quran. Di usia mereka yang biasanya sangat gemar bermain, justru mereka telah menjadi ahli Al Quran. Hal itu juga tidak terlepas dari pola asuh orang tua yang selalu menanamkan kecintaan kepada Al Quran sedari dini. Sekolah pertama bagi anak-anak adalah orang tuanya. Orang tuanyalah yang berperan penting untuk mendidik anak agar kecintaan kepada Al Quran terus terjaga.

               Semangat cinta Al Quran yag ditunjukkan oleh rakyat Palestina seyogianya membuat kita semakin semangat untuk mempelajari dan menghafal Al Quran. Mereka saja yang tidak aman oleh gempuran musuh, bisa mengahafal Al Quran dengan sangat megagumkan. Apalagi kita yang berada di negara yang damai dan tenteram, apa yang menjadi alasan untuk tidak berusaha menghafal Al Quran?

               Allah berfirman dalam Surah Fathir ayat 29 “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al Quran) dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.”

 

Tentang penulis:

Nike Shinta adalah anggota grup ODOJ G1621. Aktivitasnya adalah sebagai penulis dan pendidik. Karyanya dimuat dalam beberapa buku antologi bersama. Salah satu buku yang disusun bersama anggota penulis ODOJ adalah Kutemukan Cinta-Mu yang diterbitkan oleh Republika. Untuk menjalin silaturrahim bisa menghubungi media sosial instagram @nikeshintanoviyanti.