Choose Your Color

Informasi

OSM / Oase Dakwah

Penyejuk Hati Penggugah Jiwa

Penyejuk Hati Penggugah Jiwa

  • 2021-09-27 15:40:20
  • Administrator
  • OSM / Oase Dakwah

Materi Tayang AIHQ
DK PSDM ODOJ

Oase Dakwah
Penyejuk Hati Penggugah Jiwa
Senin, 27 September 2021


Syura dan Kekuatan Iman
Oleh: Umar Hidayat


Perhelatan-perhelatan besar selalu ditandai dengan agenda yang besar dan bermakna strategis. Mungkin pergantian kepemimpinan, menguatan AD ART atau program dan agenda strategis lainnya. Tentu rangkaian momentum akan diciptakan agar perhelatan itu penuh dengan makna dan penuh kesiapan yang akan berdampak bagi kemajuan bersama serta tercapainya cita-citanya. Syura-syura kecil diadakan untuk mengawal agenda menuju syura-syura besar. 

Dibalik gegap gempita syura selalu saja ada dinamika pro dan kontra. Tentang setuju dan tidak setuju. Sejalan dan tidak sejalan. Semua itu hal yang wajar. Biasa saja. Tidak ada yang patut dikhawatirkan. Apalagi jika komunitas pembaca al Quran yang mengadakan (sebut saja ODOJ). Steril dari pro kontra hampir tidak mungkin. Hanya saja jika pro dan kontra itu kehilangan adablah yang akan membuat kerusakan. Setidaknya menjadi noda. 

Masih ingat kisah perang Uhud? Pertempuran Uhud adalah pertempuran yang pecah antara kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy pada tanggal 22 Maret 625 M (7 Syawal 3 H). Pertempuran ini terjadi kurang lebih setahun lebih seminggu setelah Pertempuran Badar. Tentara Islam berjumlah 700 orang sedangkan tentara kafir berjumlah 3.000 orang. 

Maunya Nabi menghadang kafilah quraisy di luar kota jauh dari Kota Madinah. Tentu sang Nabi bukan tanpa alasan, apalagi sebagai Nabi pasti memiliki pertimbangan "linuih" dibandingkan manusia biasa. Tetapi setelah disyurakan dengan para sahabat, akhirnya sepakat diadakan perang kota. Artinya peperangan bukan di laur kota sebagaimana yang dikehendaki Nabi. Nabi pun menjunjung keputusan syura. Hingga menjadi asbabun nuzul turunlah Surah Ali Imran ayat 121-122. 

Toh akhirnya kaum Muslimin kalah di perang Uhud. Apakah Nabi menyesal, tidak. Boleh jadi andai para sahabat mengiyakan filing kenabian Rasulullah, mungkin kaum Muslimin tidak kalah. Tetapi itulah sejarah telah terjadi. Kisah ini Sang Nabi ingin menunjukan kepada kaumnya betapa taat kepada hasil syura merupakan kewajiban ummat. Sepanjang syura itu sudah sesuai dengan prinsip-prinsip syar'i dan tata aturan yang disepahami. 

Bahwa dinamika untuk pengambilan keputusan dalan syura sangat mungkin terjadi begitu kerasnya adu argumentasi, dalil, fakta dan data; tetapi jika keputusan syura telah dihasilkan, maka tidak ada lagi perselisihn atau dendam saat dinamika syura terjadi. Inilah kedewasaan berpikir dan beradab. Bahwa boleh jadi keputusan syura itu bertentangan dengan pikiran pribadi, bisa jadi, tetapi sekali lagi saat keputusan telah dihasilkan, tugas kita adalah sami'na wa atha'na. 

Syura kita memang tidak ada Nabi dan para sahabat, tetapi etika keadaban dalam syura meski kita pegangi menjadi pedoman dalam kemajuan komunitas bersama. Toh jalur aspirasi masih tetap terbuka untuk perbaikan dan kebaikan bersama. Jangan karena ego diri lalu diperjuangkan untuk mengalahkan hasil syura. Jika itu terjadi kemana lagi kita akan berkiblat jika tidak pada kanjeng Nabi Muhammad Saw dan al qur'an ini? 

Mari bangun komunitas dengan optimis, sepwnuh perjuangan dan pengorbanan, sportif dan penuh keadaban. Selamat berjuang....

Jogja, Rabu, 22 September 2021


??•??•??•??•??•??
AIHQ - DK PSDM ODOJ
AIHQ/632/27/09/2021
oaseodoj@gmail.com
Fp : AIHQ Onedayonejuz