Pola Syukur: Meresapi Anugerah Lahir dan Batin Bersama Pecinta Al-Qur’an
Sahabat ODOJ yang dirahmati Allah,
Syukur. Kata ini seringkali kita ucapkan, namun tak jarang maknanya hanya sampai di lisan, belum meresap ke dalam sanubari. Seolah-olah, syukur hanya layak terucap ketika “semua” keinginan kita terpenuhi, “semua” doa kita terkabul, atau “semua” kesulitan telah sirna. Padahal, jika kita menelisik lebih dalam, syukur adalah pangkal dari segala kebaikan, kunci pembuka pintu rezeki, dan jalan menuju ketenangan hakiki.
Ada sebuah mutiara hikmah dari seorang ulama besar, Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah yang perlu kita renungkan bersama. Dalam kitabnya yang monumental, Madarijus Salikin, beliau menuturkan,
“Rasa syukur ada 2 macam: Syukur atas makanan, minuman, pakaian, dan nutrisi badan, serta Syukur atas tauhid, keimanan, dan nutrisi hatinya.” (Madarijus Salikin, jilid 2/ halaman 235)
Pernyataan ini seakan menampar kesadaran kita. Betapa seringnya kita hanya fokus pada nikmat lahiriah, sementara nikmat rohaniah yang jauh lebih berharga seringkali luput dari pandangan. Padahal, keduanya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam membentuk pribadi mukmin yang utuh.
Alhamdulillah, Nikmat di Setiap Sore Kita
Mari kita sejenak merenung di sore yang damai ini. Alhamdulillah, kita masih bisa merasakan hangatnya makanan, segarnya minuman, nyamannya pakaian, dan beragam nutrisi untuk raga kita. Nikmat-nikmat ini, meskipun terasa sederhana, adalah bukti nyata kasih sayang Allah yang tak pernah putus. Kita bisa bayangkan, di luar sana ada saudara kita yang mungkin sedang berjuang keras hanya untuk mendapatkan seteguk air atau sepiring nasi.
Di saat yang sama, Alhamdulillah pula, Allah masih mengizinkan kita untuk bertahid, menjaga keimanan, dan menghidangkan aneka nutrisi untuk hati. Nutrisi hati itu berupa apa? Tentu saja, petunjuk dari Al-Qur’an, nasihat dari hadis, kajian ilmu, dan dzikir yang menenangkan jiwa. Inilah “makanan” yang jauh lebih penting dari sekadar makanan raga. Tanpa nutrisi ini, hati kita akan kering, hampa, dan mudah tergoda oleh bisikan-bisikan syaitan.
Maka, alangkah ringan dan indahnya jika kita bisa mengucapkan syukur untuk kedua hal tersebut. Syukur untuk nikmat lahir dan syukur untuk nikmat batin. Ini bukan hal yang dibuat-buat, melainkan pengakuan atas kenyataan yang memang ada dan kita rasakan.
Membongkar Pola Pikir Syukur yang Keliru

Seringkali, asumsi-asumsi di kepala kita terlalu rumit dan memberatkan untuk sekadar bersyukur. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Syukur pada apa? Memangnya do’aku sudah terkabul semua, jadi wajib bersyukur? Apa seluruh kesulitanku sudah hilang berganti kemudahan, lalu aku mesti bersyukur?” seringkali muncul, menghambat kita dari meresapi nikmat yang sudah ada di depan mata.
Pola pikir seperti ini adalah jebakan. Syukur bukanlah hasil akhir dari terpenuhinya semua keinginan. Sebaliknya, syukur adalah sikap dasar seorang mukmin dalam menghadapi setiap takdir Allah. Syukur adalah ‘nafas’ yang kita hembuskan setiap kali kita menyadari betapa luasnya karunia Allah.
Mari kita ambil rumus syukur yang diajarkan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah sebagai pedoman harian kita. Jangan menunggu semua masalah selesai baru bersyukur. Sebaliknya, terimalah dengan lapang dada nikmat makanan, minuman, pakaian, dan nutrisi tubuh yang tersedia saat ini. Dan yang paling penting, terimalah dengan sepenuh hati kebaikan tauhid, iman, dan nutrisi hati yang masih terasa begitu nikmatnya.
Menghindari Kedustaan Nikmat dan Ketakutan Su’ul Khatimah

Sahabatku, jangan sampai asumsi yang keliru itu membuat kita menjadi pendusta nikmat. Karena dengan mendustakan nikmat, kita bisa menyebabkan Allah murka. Kita bisa bayangkan, jika Allah menarik kembali nikmat makanan, minuman, pakaian, dan nutrisi tubuh. Bagaimana rasanya? Kita bisa melihatnya pada orang-orang yang sedang sakit, terbaring tak berdaya, tidak memiliki uang untuk membeli apa pun, bahkan keluarga dan teman-temannya menjauhi. Sungguh sebuah ujian yang berat, bukan?
Lebih dari itu, yang paling kita takutkan adalah jika kita sampai mendustakan nikmat tauhid, iman, dan nutrisi hati, lalu Allah menariknya kembali dari kita. Apalagi kalau sampai berujung pada su’ul khatimah, yaitu akhir hidup yang buruk, semoga Allah melindungi kita semua. Na’udzubillahi min dzalik.
Para pecinta Al-Qur’an, tugas kita adalah menjaga hati agar senantiasa terhubung dengan Allah. Kita harus terus menerus menyiramnya dengan ayat-ayat suci, merenungkan maknanya, dan mengamalkannya. Dengan demikian, hati kita akan selalu hidup, dan kita akan terhindar dari penyakit hati yang paling berbahaya: kufur nikmat.
Mari kita selalu ingat, setiap tarikan nafas adalah nikmat. Setiap ayat yang kita baca adalah nikmat. Setiap sujud yang kita lakukan adalah nikmat. Syukurilah semuanya.
Semoga Allah senantiasa menuntun kita menjadi hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Banyuwangi, 2 Agustus 2025 Diambil dari ODOJ Spirit Message oleh fachirohrba, DeptPSDM /40/05 Agustus 2025 Departemen Rekrutmen dan Training PSDM One Day One Juz