Muslim Taat Tak Akan Kufur Nikmat: Belajar dari Kisah Negeri Saba’
“Masih ingatkah kalian kisah tentang sebuah negeri yang diberkahi begitu banyak nikmat, namun akhirnya hancur karena kesombongan dan kekufuran mereka? Negeri yang dahulu makmur, namun luluh lantak karena penduduknya enggan bersyukur. Itulah negeri Saba’.”
Pendahuluan: Pentingnya Bersyukur dalam Kehidupan
Setiap manusia yang hidup di muka bumi ini tak pernah lepas dari nikmat Allah ﷻ. Nikmat itu bisa berupa kesehatan, rezeki, keluarga, keamanan, maupun kemudahan dalam beribadah. Namun, nikmat yang melimpah justru seringkali menjadi ujian tersendiri.
Apakah kita akan bersyukur atas karunia itu, ataukah malah kufur nikmat hingga berakhir dalam kebinasaan?
Dalam kehidupan modern, fenomena ini masih sangat relevan. Banyak negeri yang diberkahi kekayaan alam melimpah, namun justru terjerumus dalam konflik, kemiskinan, dan kerusakan karena kelalaian warganya. Untuk itu, mari kita belajar dari kisah yang diabadikan dalam Al-Qur’an: kisah negeri Saba’.
Kisah Negeri Saba’: Negeri yang Penuh Kemakmuran

Negeri Saba’ adalah salah satu negeri yang Allah limpahkan dengan kemakmuran luar biasa. Dalam sejarah, negeri ini dikenal memiliki wilayah yang subur, kekayaan alam yang tak terbatas, serta masyarakat yang hidup dalam kedamaian. Menurut beberapa riwayat, negeri ini terletak di wilayah Yaman sekarang.
Salah satu bentuk nikmat yang Allah berikan kepada mereka adalah lingkungan yang bersih dan aman. Di negeri itu, hampir tidak ditemukan hewan-hewan yang berbahaya seperti:
- Nyamuk,
- Lalat,
- Kutu,
- Kalajengking,
- Ular, dan hewan pengganggu lainnya.
Bayangkanlah hidup di negeri yang aman seperti itu. Tak ada gangguan yang berarti, tanah yang subur, air yang berlimpah, dan sumber daya alam yang tak pernah habis. Semua ini seharusnya menjadi pendorong bagi penduduk negeri Saba’ untuk semakin taat kepada Allah dan memperkuat rasa syukur.
Namun sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya.
Kenikmatan yang berlimpah membuat mereka terlena dan lupa diri. Mereka mulai lalai dalam menjalankan amanah yang telah diberikan Allah, termasuk dalam menjaga dan mengelola bendungan yang menjadi pusat kehidupan mereka.
Kufur Nikmat: Awal dari Kehancuran
Salah satu kesalahan fatal penduduk Saba’ adalah mengabaikan pemeliharaan bendungan raksasa yang selama ini menjadi penopang kehidupan mereka. Awalnya, bendungan itu dibangun dengan penuh perencanaan dan pemeliharaan yang baik. Namun, ketika kesombongan dan rasa malas menguasai hati mereka, bendungan itu terbengkalai.
Akhirnya, bendungan tersebut roboh dan menimbulkan banjir besar yang meluluhlantakkan negeri Saba’.
Banjir itu menghancurkan:
- Lahan pertanian yang subur,
- Pemukiman penduduk,
- Infrastruktur yang sebelumnya maju,
- Serta memaksa banyak orang untuk meninggalkan tanah kelahiran mereka.
Tragedi ini menjadi hukuman langsung dari Allah atas sikap kufur nikmat yang mereka tunjukkan. Bukannya bersyukur dan semakin taat, mereka malah menyepelekan amanah yang diberikan, hingga akhirnya Allah mencabut seluruh karunia tersebut.
Pesan dari Kisah Negeri Saba’
Setiap kisah dalam Al-Qur’an bukan hanya sekadar cerita masa lalu, melainkan pelajaran berharga bagi umat Islam sepanjang zaman. Kisah negeri Saba’ mengandung pesan mendalam bagi kita semua:
1. Syukur Adalah Kunci Menjaga Nikmat
Allah ﷻ berfirman dalam TQS. Ibrahim:7:
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.'”

Ayat ini menegaskan bahwa syukur bukan hanya ucapan lisan, tetapi juga tindakan nyata. Bersyukur berarti:
- Menggunakan nikmat Allah untuk kebaikan,
- Menjaga amanah yang diberikan,
- Dan terus berupaya memperbaiki diri agar tidak lalai.
Penduduk Saba’ gagal dalam ujian ini. Mereka mengira nikmat akan terus ada selamanya, padahal Allah dapat mencabutnya kapan saja.
2. Kemakmuran Adalah Amanah, Bukan Sekadar Keberuntungan
Seringkali manusia memandang kekayaan dan kemakmuran hanya sebagai keberuntungan semata. Padahal dalam Islam, kemakmuran adalah amanah besar.
Setiap nikmat harus dikelola dengan penuh tanggung jawab, seperti:
- Pemerintahan yang adil,
- Pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan,
- Menjaga kesejahteraan sosial,
- Tidak menimbun kekayaan hanya untuk segelintir orang.
Ketika suatu masyarakat gagal menjalankan amanah ini, kehancuran tinggal menunggu waktu, sebagaimana yang terjadi di negeri Saba’.
3. Kesombongan Adalah Penyebab Kebinasaan
Penduduk Saba’ bukan hanya lalai, tetapi juga sombong. Mereka merasa mampu bertahan tanpa pertolongan Allah, seolah-olah kejayaan mereka adalah hasil usaha semata.
Kesombongan ini akhirnya membutakan mereka dari kebenaran. Dalam Al-Qur’an, banyak sekali contoh umat yang dibinasakan karena kesombongan, seperti kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun.
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”
(TQS. Al-Isra:37)
Refleksi untuk Umat Islam Masa Kini
Kisah negeri Saba’ tidak hanya relevan di masa lalu. Saat ini, banyak negeri yang diberkahi kekayaan alam luar biasa. Namun, kita juga sering melihat:
- Korupsi merajalela,
- Ketidakadilan dalam pemerintahan,
- Kerusakan lingkungan akibat keserakahan manusia,
- Dan hilangnya rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari.
Jika kita tidak segera berbenah, bukan tidak mungkin kita akan mengalami nasib yang sama seperti negeri Saba’.
Langkah Nyata Agar Tidak Kufur Nikmat
Berikut beberapa langkah praktis yang dapat kita lakukan:
- Memperkuat Iman dan Taqwa
Selalu mendekatkan diri kepada Allah melalui shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an. - Menggunakan Nikmat untuk Kebaikan
Apapun yang Allah titipkan, seperti harta, ilmu, dan waktu, gunakanlah untuk kepentingan umat. - Menjaga Lingkungan dan Sumber Daya Alam
Tidak merusak alam, karena kerusakan lingkungan adalah bentuk kufur nikmat. - Bersyukur dalam Keadaan Apapun
Bersyukur tidak hanya saat menerima nikmat besar, tetapi juga dalam hal-hal kecil dan ketika menghadapi ujian. - Aktif dalam Dakwah dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Mengingatkan sesama agar tidak terjerumus dalam kesalahan yang dapat membawa kehancuran kolektif.
Sejarah Sebagai Cermin Kehidupan
Sejarah hadir bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga sebagai cermin diri.
Jika kita melihat negeri yang maju dan makmur, tanyakanlah:
Apakah mereka bersyukur dan taat, ataukah mereka sedang berjalan menuju kehancuran karena kesombongan?
Sebaliknya, jika melihat negeri yang terpuruk, kita harus bercermin:
Apakah kita sudah berusaha memperbaiki diri dan lingkungan, ataukah kita ikut menyumbang dalam kerusakan tersebut?
“Sungguh, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(TQS. Ar-Ra’d:11)
Penutup: Mari Menjadi Muslim yang Bersyukur

Kisah negeri Saba’ mengajarkan kita bahwa nikmat bukan hanya anugerah, tetapi juga ujian.
Seorang Muslim yang taat tidak akan kufur nikmat, karena ia sadar bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan Allah yang harus dipertanggungjawabkan.
Mari kita jadikan diri kita pribadi yang selalu bersyukur, taat dalam segala aspek kehidupan, dan senantiasa menjaga amanah yang diberikan. Dengan begitu, insyaAllah kita dapat terhindar dari kehancuran yang menimpa umat-umat terdahulu.
Penulis: Evi Fadillah Nur
Dept. PSDM / 50 / 27 September 2025
Departemen Rekrutmen dan Training PSDM One Day One Juz