Waktu Terbaik untuk yang Terbaik: Memprioritaskan Al-Qur’an dalam Keseharian
Salah satu berkah yang kita peroleh ketika bergabung dalam komunitas One Day One Juz (ODOJ) adalah kesempatan belajar mengelola waktu dengan lebih bijaksana. Kita dilatih untuk bisa menyelesaikan tilawah tepat waktu, atau dalam bahasa mereka: kholas on time. Memang tak mudah, karena membaca satu juz Al-Qur’an saja tidak semua orang berkesempatan melakukannya setiap hari.
Setiap individu memiliki ritme dan durasi berbeda dalam menuntaskan bacaannya. Ada yang cukup setengah jam, ada pula yang membutuhkan lebih dari satu jam. Namun yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita selesai, melainkan bagaimana kita memberikan waktu terbaik untuk sesuatu yang kita anggap paling berharga. Dan apa yang lebih berharga dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala?
Cinta Sejati kepada Al-Qur’an

Analoginya sederhana. Ketika kita mencintai seseorang, pasti ingin menghabiskan banyak waktu bersamanya. Kita berusaha meluangkan waktu, bahkan di sela-sela kesibukan, hanya untuk bisa berada di dekatnya. Begitu pula seharusnya hubungan kita dengan Al-Qur’an. Jika kita mengaku cinta pada Kitab Suci ini, sudah sepantasnya kita meluangkan lebih banyak waktu untuk bersamanya.
Berikan waktu terbaik, saat diri dalam kondisi paling prima untuk bisa menikmati setiap ayat yang tertuang di dalamnya. Al-Qur’an adalah pesan cinta dari Sang Pencipta. Dia yang telah begitu banyak memberi kebaikan kepada kita—dari napas yang kita hirup, kesehatan yang kita nikmati, hingga rezeki yang mengalir setiap hari.
Jika kepada orang yang dicintai saja kita mampu memberi segalanya, apalagi untuk pesan cinta-Nya yang telah memberi kita begitu banyak kebaikan? Pasti tidak akan pernah bosan kita membacanya, lagi dan lagi. Setiap kali dibuka, ada saja hikmah baru yang tersingkap, ada saja kedamaian yang meresap ke dalam hati.
Bukan Waktu Sisa, Tapi Waktu Utama
Waktu terbaik untuk yang terbaik, bukanlah waktu sisa yang terburu-buru. Bukan waktu ketika kita sudah lelah seharian beraktivitas, lalu asal-asalan membaca hanya untuk sekadar bisa laporan atau menggugurkan kewajiban. Bukan seperti itu cara kita menghormati Kalam Ilahi.
Al-Qur’an ibarat sahabat sejati yang akan membela kita di hari akhir nanti. Bagaimana dia akan membela kita di hadapan Allah adalah cerminan dari bagaimana kita memperlakukannya di dunia. Jika kita hanya membacanya seadanya, dengan hati yang lalai dan pikiran yang berkelana ke mana-mana, bagaimana bisa kita berharap pembelaannya kelak?
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Qur’an itu akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim)
Hadits ini mengingatkan kita bahwa kualitas interaksi kita dengan Al-Qur’an akan menentukan seberapa besar manfaat yang akan kita petik, baik di dunia maupun di akhirat.
Meluangkan Waktu di Pagi Hari

Pagi hari, sebelum kita memulai aktivitas, sebelum scrolling media sosial atau membuka pesan-pesan yang masuk, kita bisa meluangkan waktu sejenak untuk tilawah. Ini adalah bentuk rasa syukur bahwa hari ini kita masih diberi kesempatan untuk menikmati hari yang baru.
Ada keistimewaan tersendiri dalam membaca Al-Qur’an di pagi hari. Pikiran masih segar, hati belum terkontaminasi hiruk-pikuk dunia, dan jiwa masih tenang. Itulah waktu emas untuk mendekatkan diri kepada-Nya melalui firman-firman-Nya.
Kemudian, kita bisa melanjutkan lagi usai shalat. Setelah munajat dalam sujud, melanjutkan dengan tilawah akan menambah kenikmatan spiritual yang luar biasa. Tidak perlu me time yang jauh-jauh atau mahal—karena saat bisa bersama-Nya adalah me time terbaik dengan Sang Pemilik Diri.
Prioritas yang Sesungguhnya
Pada akhirnya, waktu terbaik adalah ketika kita mampu memprioritaskan Allah dan firman-Nya di atas semua urusan kita. Karena sejatinya, tidak ada urusan yang lebih penting selain untuk-Nya. Pekerjaan, karier, bahkan keluarga—semua itu akan berlalu. Yang kekal hanyalah hubungan kita dengan Sang Khaliq.
Jika kita selalu berharap agar Allah memprioritaskan kita—dalam setiap doa, setiap permohonan, setiap kesulitan—maka lakukan juga hal demikian pada Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya. Ini adalah prinsip timbal balik spiritual yang diajarkan dalam Islam.
Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:
“Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maknanya, ketika kita mengutamakan Allah, Allah pun akan mengutamakan kita. Ketika kita meluangkan waktu untuk firman-Nya, Allah akan meluaskan waktu kita dan memberkahi setiap detik kehidupan kita.
Konsistensi dalam Tilawah

Bergabung dalam gerakan seperti ODOJ mengajarkan kita tentang pentingnya konsistensi. Bukan soal membaca banyak dalam waktu singkat, tetapi tentang istiqamah—terus-menerus, meski sedikit. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara rutin, meski sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Satu juz sehari mungkin terdengar berat bagi sebagian orang, tapi jika kita pecah menjadi beberapa sesi—pagi, setelah Dzuhur, setelah Ashar, dan setelah Isya—maka beban itu akan terasa ringan. Yang penting adalah niat yang lurus dan tekad untuk terus bersama Al-Qur’an.
Saat kita konsisten, tilawah tidak lagi terasa seperti kewajiban yang memberatkan, melainkan seperti kebutuhan jiwa yang tidak bisa ditinggalkan. Seperti seorang pecandu kopi yang tidak bisa memulai harinya tanpa secangkir kopi, begitu pula hati yang sudah terikat dengan Al-Qur’an akan merasa hampa jika sehari saja tidak bertilawah.
Menikmati Setiap Ayat
Tilawah yang berkualitas bukan sekadar membaca dengan cepat untuk mengejar target. Namun membaca dengan penuh penghayatan, merenungkan makna setiap ayat, dan membiarkan firman Allah meresap ke dalam sanubari. Ini yang disebut dengan tadabbur—merenungkan Al-Qur’an dengan hati yang hadir.
Allah berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ
“Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)
Ayat ini adalah teguran sekaligus undangan dari Allah agar kita tidak hanya membaca, tetapi juga memahami, merenungkan, dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an. Tanpa tadabbur, tilawah kita hanya akan menjadi gerakan bibir tanpa makna yang menyentuh hati.
Membela Al-Qur’an dengan Perbuatan
Lebih dari sekadar membaca, kita juga perlu membela Al-Qur’an dengan perbuatan. Membela di sini bukan berarti berpolemik atau berdebat kusir dengan orang lain, tetapi dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup sehari-hari.
Ketika Al-Qur’an mengajarkan kejujuran, kita jujur dalam setiap transaksi. Ketika Al-Qur’an mengajarkan kasih sayang, kita tunjukkan kelembutan kepada sesama. Ketika Al-Qur’an melarang riba, kita jauhi segala bentuk praktik yang mengandung unsur riba. Inilah bentuk pembelaan yang sesungguhnya.
Dan kelak, di hari pembalasan, Al-Qur’an akan menjadi saksi. Bagi yang memuliakan dan mengamalkannya, Al-Qur’an akan menjadi pembela. Namun bagi yang mengabaikan dan melalaikannya, Al-Qur’an akan menjadi penuntut.
Ajakan untuk Para Pecinta Al-Qur’an
Untuk para ODOJERS dan semua pecinta Al-Qur’an di mana pun berada, mari kita komit untuk memberikan waktu terbaik kita untuk Kitab yang terbaik. Bukan waktu luang, bukan waktu sisa, tetapi waktu utama—saat energi masih penuh, saat hati masih jernih, saat pikiran belum dipenuhi oleh kesibukan duniawi.
Jadikan tilawah sebagai ritual harian yang tidak bisa ditawar. Seperti kita tidak pernah lupa makan dan minum karena tubuh membutuhkannya, begitu pula jiwa kita membutuhkan asupan ruhani dari Al-Qur’an. Tanpa Al-Qur’an, hati akan lapar, jiwa akan gersang, dan hidup akan kehilangan makna.
Ingatlah bahwa setiap huruf yang kita baca akan menjadi pahala yang berlipat ganda. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kebaikan yang semisalnya.” (HR. Tirmidzi)
Bayangkan, hanya dengan membaca satu huruf saja, kita sudah mendapat sepuluh pahala. Lalu bagaimana dengan satu ayat? Satu halaman? Satu juz? Subhanallah, sungguh Allah Maha Pemurah dalam memberi balasan kepada hamba-hamba-Nya yang mencintai firman-Nya.
Waktu Terbaik untuk Kehidupan Terbaik
Waktu terbaik untuk yang terbaik bukanlah slogan semata. Ini adalah filosofi hidup yang akan membawa kita pada kualitas kehidupan yang lebih bermakna. Ketika Al-Qur’an menjadi prioritas, segala aspek kehidupan kita akan tertata dengan lebih baik. Pekerjaan menjadi berkah, keluarga menjadi sakinah, dan hati menjadi tenteram.
Mari bersama-sama menjadikan Al-Qur’an sebagai teman setia dalam setiap langkah perjalanan hidup kita. Berikan dia waktu terbaikmu, niscaya dia akan memberimu kehidupan terbaik—di dunia dan di akhirat.
Yuk, ODOJERS, kita berikan waktu terbaik untuk yang terbaik!
Penulis Asli: Iffah Zubaidah
Instagram: @iffah.zubaidah.3
Departemen PSDM ODOJ, 22 November 2025