Mengejar Dunia atau Akhirat? Menemukan Keseimbangan dalam Kehidupan Muslim
Pernahkah kita menghentikan langkah sejenak, lalu bertanya pada diri sendiri: apa sebenarnya yang sedang kita kejar selama ini? Pertanyaan sederhana, namun jawabannya kerap membuat kita terdiam. Harta yang melimpah? Jabatan yang prestisius? Kesuksesan karier yang gemilang? Atau stabilitas finansial yang mapan?
Dalam kesibukan mengejar berbagai pencapaian duniawi, tanpa disadari kita sering terjebak dalam ilusi sementara. Semua yang tampak begitu berharga dan mendesak untuk diraih hari ini, pada saatnya nanti akan sirna bagaikan embun di pagi hari. Ini bukan pessimisme, melainkan kesadaran spiritual yang Allah Ta’ala ingatkan kepada kita semua.
Ketika Dunia Menjadi Tujuan Utama

Realitas yang kita saksikan hari ini sungguh memprihatinkan. Demi mengejar gemerlap dunia, tidak sedikit orang yang rela menempuh jalan-jalan yang bengkok. Ada yang menipu rekan bisnisnya, menggelapkan amanah yang dipercayakan, memaki dengan kata-kata kasar, mencaci tanpa rasa malu, bahkan mengambil hak orang lain tanpa perasaan bersalah.
Apa yang mendorong perbuatan-perbuatan tercela ini? Tidak lain adalah obsesi berlebihan terhadap kehidupan dunia yang fana. Ketika hati sudah terpaku pada materi, prinsip dan nilai-nilai luhur perlahan mulai terkikis.
Peringatan Tegas dari Al-Qur’an
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membiarkan kita tersesat dalam kebingungan. Dengan tegas dan berulang-ulang, Dia mengingatkan tentang hakikat dunia yang sesungguhnya. Peringatan ini bahkan diulang hingga empat kali dalam Al-Qur’an, sebagai bukti betapa pentingnya pesan ini:
- Surat Al-An’am ayat 32
- Surat Al-‘Ankabut ayat 64
- Surat Muhammad ayat 36
- Surat Al-Hadid ayat 20
Dalam keempat ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa kehidupan dunia ini tidak lebih dari lahwun wa la’ibāmain-main dan senda gurau belaka. Bukan berarti kita dilarang menikmati dunia, tetapi kita diperingatkan agar tidak menjadikannya sebagai tujuan akhir hidup.
Salah satu ayat yang paling gamblang menjelaskan hal ini adalah Surat Al-Hadid ayat 20:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak…”
Ayat ini bagaikan tamparan keras bagi kita yang terlalu asyik mengejar dunia hingga lupa pada tujuan sejati penciptaan manusia.
Gejala “Gila Dunia” dalam Kehidupan Sehari-hari

Ada fenomena mengkhawatirkan yang mulai menjangkiti sebagian kaum muslimin: sindrom “gila dunia”. Gejalanya sangat mudah dikenali. Seseorang yang tadinya rajin mengaji Al-Qur’an, tiba-tiba mushaf-nya mulai berdebu di rak. Shalat Dhuha yang dulunya menjadi rutinitas pagi, entah menghilang ke mana. Tahajud yang pernah menjadi kebanggaan spiritual, sirna tanpa bekas. Bahkan semangat berinfaq pun mulai kendur, tergerus oleh pemikiran “nanti saja kalau sudah lebih mapan”.
Ini adalah kerugian yang nyata, jauh lebih besar daripada kerugian finansial di pasar saham sekalipun. Ketika kita kehilangan koneksi spiritual dengan Allah, saat itulah kita benar-benar miskināmeski rekening bank mungkin berbaris angka nolnya.
Redefinisi Kesuksesan dalam Islam
Masyarakat modern sering mengukur kesuksesan dari parameter yang keliru. Seseorang dianggap sukses jika memiliki rumah mewah, mobil keluaran terbaru, atau portofolio investasi yang menggiurkan. Media sosial memperparah kondisi ini dengan terus-menerus menampilkan standar kesuksesan yang materialistis.
Namun Islam mengajarkan definisi kesuksesan yang jauh berbeda dan lebih bermakna. Kesuksesan sejati seorang muslim bukanlah diukur dari berapa banyak harta yang ditimbun, seberapa tinggi jabatan yang disandang, atau seberapa besar aset yang dimiliki.
Kesuksesan hakiki adalah ketika seseorang dipanggil menghadap Allah dalam keadaan baikāhusnul khatimah. Wafat dengan kalimat tauhid di lisan, dalam keadaan beriman, dengan amal saleh yang menjadi bekal, dan diridhai oleh Allah Ta’ala. Inilah puncak pencapaian yang sesungguhnya, yang tidak ada satupun kesuksesan duniawi mampu menandinginya.
Bayangkan, apa gunanya semua kekayaan dan kemegahan dunia jika di akhir hayat kita justru mengalami su’ul khatimah? Semua yang kita kumpulkan selama puluhan tahun akan ditinggalkan begitu saja, bahkan kafan yang kita kenakan pun tidak memiliki kantong.
Jalan Tengah: Mengejar Dunia dengan Cara yang Benar

Perlu ditegaskan, Islam tidak melarang umatnya untuk mengejar kesuksesan duniawi. Justru, kita dianjurkan untuk bekerja keras, berusaha dengan sungguh-sungguh, dan meraih yang terbaik. Rasulullah ļ·ŗ sendiri adalah seorang pengusaha sukses sebelum diangkat menjadi nabi.
Yang menjadi masalah adalah cara dan niat dalam mengejar dunia tersebut. Jika dilakukan dengan:
- Cara yang halal dan tidak melanggar syariat
- Niat yang baik, untuk beribadah dan membantu sesama
- Tetap menjaga iman dan tidak melalaikan kewajiban kepada Allah
- Disertai ketakwaan dalam setiap langkah dan keputusan
Maka mengejar dunia justru menjadi bentuk ibadah yang bernilai pahala di sisi Allah. Bekerja untuk menafkahi keluarga adalah ibadah. Berbisnis dengan jujur adalah ibadah. Meraih kesuksesan untuk kemudian menyedekahkan sebagian hasilnya adalah ibadah yang mulia.
Keseimbangan: Kunci Kehidupan Muslim yang Sejahtera

Al-Qur’an memberikan doa yang sempurna untuk keseimbangan hidup ini dalam Surat Al-Baqarah ayat 201:
“Dan di antara mereka ada yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka.'”
Doa ini mengajarkan bahwa seorang muslim sejati tidak ekstremātidak hanya mengejar dunia hingga lupa akhirat, dan tidak pula menelantarkan urusan dunia dengan dalih zuhud. Keduanya harus berjalan beriringan, saling melengkapi dalam harmoni yang indah.
Bagaimana caranya? Berikut beberapa langkah praktis:
1. Prioritaskan Kewajiban Kepada Allah
Seberapa sibuknya kita, shalat lima waktu adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Ini adalah tiang agama dan pembeda antara muslim dengan kafir. Sisihkan waktu untuk membaca Al-Qur’an setiap hari, meski hanya satu halaman.
2. Bangun Amalan Sunnah Secara Konsisten
Shalat Dhuha, tahajud, puasa Senin-Kamis, dan amalan-amalan sunnah lainnya adalah investasi akhirat yang luar biasa. Mulailah dengan yang ringan dan konsisten, jangan terburu-buru ingin sempurna dalam semalam.
3. Jaga Integritas dalam Bekerja
Apapun profesi kitaāpengusaha, karyawan, profesional, atau pekerja lepasātegakkanlah prinsip kejujuran, amanah, dan tanggung jawab. Kesuksesan yang dibangun di atas penipuan adalah bom waktu yang cepat atau lambat akan meledak.
4. Sisihkan Harta untuk Berbagi
Biasakan berinfaq dan bersedekah, tidak harus menunggu kaya raya. Justru di saat kita merasa “pas-pasan” itulah nilai sedekah sangat besar di sisi Allah. Ini adalah cara membersihkan harta dan melatih jiwa agar tidak tamak.
5. Evaluasi Niat Secara Berkala
Sesekali duduk merenung, tanyakan pada diri sendiri: “Untuk apa aku bekerja keras? Untuk siapa aku mengejar kesuksesan ini?” Jika jawabannya hanya untuk diri sendiri dan pamer kepada manusia, maka ada yang perlu diperbaiki dalam niat kita.
Pesan Bijak dari Dewi Suryati
Renungan yang dibagikan oleh Ibu Dewi Suryati dari Departemen PSDM (Pengembangan Sumber Daya Manusia) One Day One Juz ini sangat relevan dengan kondisi kita semua. Beliau mengingatkan dengan bahasa yang sederhana namun menohok: jangan sampai kita begitu gila mengejar dunia hingga melupakan akhirat.
Program One Day One Juz sendiri adalah inisiatif mulia untuk membangun kebiasaan tilawah Al-Qur’an secara konsisten. Melalui program seperti ini, diharapkan kaum muslimin dapat tetap terhubung dengan kitab suci mereka meski di tengah kesibukan duniawi.
Pesan beliau di Instagram @dewi_suryati1 patut kita renungkan bersama: “Mengejar dunia tidak salah, asal dengan cara yang baik, benar, beriman, dan bertakwa. Tapi jangan lupa, kejar juga akhirat kita.”
Kesimpulan: Jangan Sampai Menyesal di Penghujung Waktu
Waktu terus berjalan tanpa bisa ditawar. Setiap detik yang berlalu membawa kita lebih dekat kepada kematianāsebuah kepastian yang tidak ada seorang pun bisa menghindar. Pertanyaannya: apakah kita sudah mempersiapkan bekal yang cukup untuk perjalanan panjang setelah mati nanti?
Jangan sampai kita menjadi seperti orang-orang yang Allah gambarkan dalam Al-Qur’an, yang ketika menghadapi kematian baru menyadari kesalahannya dan meminta waktu tambahan. Tapi sayangnya, waktu tidak bisa diputar kembali.
Mari kita renungkan kembali: apa yang sedang kita kejar hari ini? Apakah usaha kita sudah seimbang antara dunia dan akhirat? Sudahkah kita bekerja dengan cara yang halal dan penuh berkah?
Dunia memang indah, tetapi janganlah ia memperdaya kita. Kejar dunia dengan semangat, namun jangan lupa bahwa akhirat adalah tujuan akhir yang sesungguhnya. Dan kesuksesan terbesar adalah ketika kita bisa pulang kepada Allah dalam keadaan yang Dia ridhaiāhusnul khatimah.
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang beruntung, yang mampu menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat dengan baik. Salam bahagia bersama, dalam lindungan dan ridha Allah Ta’ala.
Tentang Penulis Asli: Artikel ini merupakan parafrase dari renungan spiritual yang dibagikan oleh Dewi Suryati, pegiat dakwah dan anggota Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) program One Day One Juz. Beliau aktif berbagi inspirasi keislaman melalui Instagram @dewi_suryati1.